Pages

Subscribe:

Kamis, 21 November 2013

Page one from November

Kamis, 21 November 2013, 22:23 WIB

Aku bergelung dalam pemikiranku, pemikiran yang entah apa wujudnya. Aku tak pernah tahu bagaimana caranya mengakhiri semua yang pernah aku mulai, aku memulai mencintai dan tak bisa mengakhiri. Sebuah kisah klise yang harusnya dapat aku antisipasi akibatnya, namun aku kalah telak! Aku kalah mengahadapi luapan cinta yang entah kepada siapa ia bertuan. Memuja ratuku, ya memuja ratu hatiku.  Malam ini hari kesekian dimana aku memulai perjalanan panjangku terhadap kasih sayang, aku berjalan diatas kasih sayang dan mencari arti makna cinta. Sejauh ku melangkah saat ini, cinta enggan menghampiriku. Mungkin aku belumlah menjadi bagian dari cinta yang di agungkan oelh kebanyakan manusia di dunia.
Apakah aku jengah? Ya, aku jengah dengan teori timbal balik serta teori kecintaan yang bentuknya abstrak! Tak tersentuh namun terasa, bagaimanakah aku mengerti tentang hidup ini? Kulalui hari bersamanya, satu hari..sampai beratus-ratus hari. Hidupku hanya tergores namanya, setiap detikku, menitku, jamku, hanya berisi goresan namanya. Aku mengagunggakn cinta untuknya, mencari makna cinta yang tak pernah aku mengerti. Jangankan mengerti, mengucapkannya pun aku tak bisa.
Bukan karena aku tak bisa mencintainya, namun teori kecintaan yang begitu dalam belumlah aku pahami. Aku masih bisa menyusuri jalan kasih sayang sampai beribu tahun lamanya. Hai kasih, pekakah engkau terhadap hatiku? Mungkinkah hati kita bersatu dalam hubungan tapi tidak dalam perasaan? Hai sayang, pernahkah kau mengkhianatiku seperti aku pernah mengkhianatimu? Percayalah, aku bisa gila jika kau membuatku dilema! Sungguh! Tak pernahkah kau melihat aku seperti orang gila yang meraung atas nama kesakitan? Bisakah kita sudahi sandiwara baik-baik saja dalam hubungan ini? Bukankah kau lelah dengan semua apa yang aku katakan? Bisakah kita mengakhiri ini, sayang? Mengakhiri yang seharusnya kita akhiri, bukan kita yang di akhiri. Mengakhiri masalah kecil, bukan masalah besar. Mengerti maksudku bukan, sayang?
Kali ini aku menuliskan hujan, rintik hujan menandakan air mata jatuh yang tertutup air. Aku mengerti bahwa kau juga tak menyukai apa yang membuatmu sakit, mungkin aku? Ya, aku. Kau pasti membenciku seperti aku membenci diriku sendiri. Tulisanku tak berharga, bagiku, kau lebih dari harga yang tertempel di barcode setiap pakaian. Kau mutiara, tak berbentuk bulat namun perlu bertahun-tahun untuk menghasilkan kualitas terbaik. Kau tahu sayang? Setiap hembusan napasku berhembus doa, berhembus banyak harapan yang ingin aku capai bersamamu. Apakah kau mengerti tentang ini, sayang?

Aku bisa menuliskan hujan lebih banyak dari ini, tapi aku tidak mau menjadi mainstream, cukup bagiku menjadi mainstream karena mencintaimu. Mencari arti cinta dan menerapkan teori kecintaan yang dalam. Kau pasti mengubah hidupku, entah bagian mana yang telah kau ubah. Darahku bersamamu, peluhku bersamamu, tubuhku milikmu, semua yang aku miliki adalah milikmu. Kecuali satu hal, pemahamanku atas apa yang terjadi. Otakku adalah bagian terpenting setelah orang-orang yang aku sayangi. Kau harus tahu, menyayangi penuh dengan perjuangan, merawatmu hingga kau tumbuh menjadi mawar yang merekah tidaklah mudah. Jadilah mawarku, walaupun kau berduri dan menyakitkan ketika di sentuh tapi kau indah untuk dipandang dan di miliki. <3 

2 komentar:

Gita's Blog mengatakan...

Sepanjang blogwalking ini yg paling keren. Hehe.
keep writing kak. :))

Line mengatakan...

thanks yaaaaa, baru cek komen nih maaf :))

Poskan Komentar