Pages

Subscribe:

Selasa, 09 April 2013

Melukis Pelangi (re-post)


“Nerraaaaaaaaa!! Gila lo jalan cepet banget!”
Aku menoleh, aku pikir siapa yang memanggilkku dengan nada bicara sekencang itu. Ternyata dia lagi. Ah aku bosan melihatnya, bagaimana tidak bosan? Dia satu kelas denganku, satu meja denganku dan satu komplek perumahan!
“Astaga bisa nggak sih orang ini tidak mengikutiku?” batinku kesal.
“ Lo mau balik ya Ner? Bareng dong?” Ucapnya sedikit memelas seraya mengatur napasnya yang terengah-engah karena mengejarku.
Aku diam, tak menjawab pertanyaannya. Aku kembali berjalan meninggalkan gerbang sekolah, hari sudah cukup sore untuk jam pulang sekolah. Dan aku bersiap untuk mengahadapi kemacetan ibukota Jakarta pada jam lima sore seperti ini.
“ Ih Nerra! lo ga denger gue ngomong? Bareng sih, lo naik busway kan?” Tanyanya sekali lagi, dan kali ini ia menggenggam tanganku. Mungkin dia takut aku akan melakukan hal yang sama, yaitu meninggalkannya lagi. Aku membelalakkan mata, dan air mukanya langsung berubah. Aku tak suka dia mengikutiku kemanapun aku pergi. Memang dia pikir aku ini siapa? Mentang-mentang satu kelas, satu meja dan satu komplek perumahan.
“ Gue naik taksi, pusing. Lo bayar argo taksinya juga kalo mau bareng, bagi dua sama gue. Gimana?” ucapku sedikit ketus.
“ Iya deh, tapi jangan galak begitu dong Ner. Serem tau!” Ucapnya sambil mencubit pipiku.
Ah orang ini, selalu saja membuatku salah tingkah. Apakah dia tak menyadari bahwa aku membencinya karena menyayanginya? Sial! Dia tak sadar.
                                                            ***
Aku termenung didepan meja belajarku, jam berapa ini? Oh tidak! Jam sembilan malam dan aku belum mengerjakan satu tugaspun untuk besok. Aku panik, dengan tergesa-gesa aku membuka sau persatu buku tugasku. Sialnya lagi ottakku tak dapat bekerjasama pada saat ini!
“ Ah sial! Kenapa malah buntu gini si otaknya? Mikirin siapa coba?!”
Tiba-tiba sosoknya muncul di pikiranku, sosok yang menyebalkan itu. Yang duduk satu meja denganku, yang rumahnya bersebelahan denganku. Tapi kenapa harus dia? Bukankah aku telah mnecoba untuk melupakan dan membenci perasaanku terhadapnya?
“ Nerraaaaaaaaa!!!” Aku terkejut, lebih tepatnya ketakutan. Aku mendengar suara orang itu! Ah mungkin aku hanya berhalusinasi, terlalu bnayak memikirkan dia memang membawa pengaruh buruk terhadap otakku.
“ Nerraaaaaaa!!!” Lebih keras lagi, dan aku makin takut. Suaranya terdengar begitu jelas, terlalu dekat. Seperti berada di dalam ruangan ini. Aku memejamkan mata, berharap setelah membuka mataku suara itu menghilang.
“ Nerraaaaa!!!!!” Astaga demi Tuhan aku ketakutan.
“ Ih lo kok ga nengok sih gue panggil? Daritadi gue disini nungguin lo belajar!” Aku kaget bukan main, kenapa? Kenapa orang ini ada di dalam kamar? Siapa yang memperbolehkan dia masuk ke kamarku?
“ Eh kok lo..lo ada disini sih?” ucapku terbata.
“ Hahaha santai aja Ner, berasa liat setan aja sih?” ucapnya disusul dengan tawanya yang lepas.
Huh dasar menyebalkan! Tidak pernah berubah semenjak aku mengenalnya, selalu saja menyebalkan! Aku membencinya.. membencinya karena menyayanginya. Aku menghampirinya yang dengan tidak sopan telah berada di atas kasurku, berbaring dengan nyaman seakan kasur itu adalah miliknya.
“ Eh bangun, ini kan kasur gue! Bangun ah!” Bentakku ketus.
“ Ih Miss Bawel kok galak ya sama Mr. Tampan nya? Nanti Mr. Tampannya pulang loh.”
Aku ternganga, aku terkejut. Kenapa dia bisa berucap seperti itu? Aku hampir saja jatuh pingsan kalau saja dia tidak meledakkan tawanya yang mengisi seluruh isi kamarku. Suara tawanya yang khas membuat berlian di kedua sudut mataku menetes. Aku bahagia mendengarnya tertawa seperti ini.
                                                                        ***
Hari ini adalah hari pertama ujian tengah semester, semua siswa disekolah ini sibuk. Sibuk menyiapkan materi ujian, sibuk mencari jawaban, dan sibuk menyiapkan contekan. Begitulah kebiasaan siswa menjelang ujian yang akan menentukan nilai akhirnya di rapot.
“ Nerra, lo duduk sama siapa?” Ucap Letta, salah satu teman sekelasku.
“ Nggak tau Ta, diatur sama guru nggak sih?” Jawabku sekenanya sambil terus berjalan menuju kelas. Aku bertemu Letta didepan gerbang sekolah, beruntung hari ini aku bisa menghindari Dion, orang yang aku benc karena menaruh rasa padanya.
“ Kayaknya sih iya, palingan lo sebangku sama Dion. Nama lo berdua kan atas bawah di absen.”
“ Lettaaaaaa ! Sini.” Panggil Kika yang tak lain adalah pacar permpuannya, otomatis Letta pergi meninggalkan aku dan membiarkanku berjalan sendiri menuju kelas. Yap, Letta Lesbian dan aku menerima segala kekurangan teman-temanku yang bergaul denganku. Kika berpenampilan layaknya laki-laki, aku sempat mengagumi Kika. Tetapi aku berhenti mengaguminya ketika aku mneyadari bahwa Dion lebih dari Kika. Tunggu dulu, tadi Letta bilang aku akan satu meja dengan Dion?
Aku sampai di ruang kelas IPA-1,  tanpa ba-bi-bu aku masuk ke dalam dan mencari meja yang masih kosong. Tentu saja aku berkonsentrasi dengan nama-nama yang tertempel di meja.
Dianerra Terechia - Dionerelia Abigail
Satu paket nama yang tertempel di meja ujian.
“ Ah? Sial gue satu meja sama Dion lagi! Argh.”
Bukkkkk !
Aku duduk dengan kasar, menimbulkan bunyi yang tak enak didengar telinga. Peduli apa, aku sedang tak memiliki semangat pada awal ujian hari ini. Dion masuk dengan santai, oh baiklah sekali lagi ia menghipnotisku ke alam bawah sadarku. Dia tampan, sangat tampan. Kulitnya putih, matanya seperti kacang almond, rambutnya berbentuk layer entah model rambut macam apa tetapi itu menambah ketampanan dirinya. Bibirnya yang tipis dan…
“ Heh Nerra, pagi-pagi udah bengong aja. Udah siap buat ujian hari ini cantik?” Ucapnya ramah.
Apa? Dia memanggilku dengan sebutan cantik? Oh Tuhan mimpi apa semalam? Cermin mana cermin, aduh aku tak ingin berpenampilan buruk dihadapannya saat ini. Bagaimana rambutku? Ah wajahku pasti memerah seperti udang rebus!
“ Siap dong, kan um pelajarannya hari ini gampang. Hehe.”
Aku malu, sangat malu. Dion hanya tersenyum melihat tingkahku, dan untuk kesekian kalinya, senyumnya membuatku terbang ke langit lapisan ke tujuh.
“ Tampan sekali perempuan ini.” Ucapku setengah berbisik seraya menyunggingkan senyum.

                                                            ***
“ Nerra, lo nggak keberatan kan gue bawa ke taman? Abis ujan juga kan, maaf ya..”
“ Nggak kok, gue malah seneng diajak keluar sama lo Gil.” Ucapku girang.
“ Jangan panggil pake sebutan Gil coba, jelek lah. Dikira lo manggil gue dengan sebutan Gila!” Ucapnya protes. Tapi aku menikmati raut wajahnya yang menunjukkan tidak menyukai sebutan itu. Ah seandainya kau tau Dion, aku ingin memanggilmu dengan sebutan “sayang”.
“ Biarin ah hahaha. Eh lo ngajak gue ke taman mau ngapain?” Tanyaku penasaran.
“ Melukis Pelangi, separti aku melukis perasaanku padamu .”
Aku menatap wajahnya, dan Oh Tuhan dia juga menatapku. Baiklah aku salah tingkah lagi, beruntung saja kami sedang duduk disebuah bangku panjang. Jika tidak, aku akan berpura-pura pingsan agar tak mendengar ucapannya barusan.
“ Nerra, udah setahun lebih kita kenal. Gue tau lo, dan lo tau gue. Gue ngerasa lo sayang sama gue, walaupun awalnya gue nggak percaya lo sayang sama gue. Sampai pas gue dating ke kamar lo, gue nemuin ini. Dibawah bantal lo.” Dion menyerahkan secarik kertas berwarna merah muda, dan mataku rasanya nyaris keluar ketika melihatnya.
“ Eh lo baca semuanya? Ini yang di dalem sini?” Ucapku terbata, Dion mengangguk.
“Dionerelia Abigail, kenapa Cuma kamu satu-satunya cewek yang bisa bikin aku jatuh cinta? Aku udah berulang kali pacaran dan menjalin kasih sama cewek tomboy semacam kamu. Tapi nggak pernah ada perasaan seperti ini. Kayak aku ke kamu. Aku selalu salah tingkah kalo kamu ngikutin aku terus, itu sebabnya aku sering bentak-bentak kamu. Padahal itu salah satu caraku supaya aku ga mati kutu. Terus pas kamu dateng ke kamarku, aku bener-bener ngerasa bahagia saat kamu tertawa lepas. Karena aku tau, semenjak kamu ditinggal sama Mama kamu untuk selamanya, kamu selalu murung. Ditambah ditinggal pacar kamu, itu si Liana. Aku pengen banget gantiin Liana di hati kamu Dion. Aku salah karena aku sayang sama kamu.”
Dion bersimpuh dihadapanku, mengenggam kedua telapak tanganku seraya menatap kedua mataku. Ah sial! Kenapa perempuan ini hobi sekali membuatku salah tingkah?
“ Nerra, would you be mine?”
“ What? AKu ga salah denger?” Ucapku terkejut bercampur haru dan.. entahlah tak bisa dilukiskan. Dion menggeleng, pertanda ia bersunggung-sungguh memintaku menjadi kekasihnya. Menggantikan Liana yang telah lama pergi mengkhianati hatinya dan perasaannya. Bersamaan dengan itu, Dion kembali duduk disampingku dan mengacungkan teluncuknya ke langit. Menggerakan telunjuknya seakan sedang melukis. Tak lama kemudian warna-warna pelangi muncul dengan turunnya telunjuk Dion.
“ Aku akan memanggilmu dengan sebutan bow, yang artinya Rainbow. Pelangi ini menjadi saksi atas bersatunya hati kita sayang. Setiap turun hujan dan muncul pelangi, ingatlah bahwa pada hari itu kita telah menyatukan hati untung saling menjaga.” Ucap Dion dengan mata berkaca-kaca, ia memelukku dengan penuh kasih sayang. Aku meneteskan air mata, air mata kebahagiaan karena Dion menjadi milikku. Seutuhnya.

0 komentar:

Posting Komentar