Pages

Subscribe:

Kamis, 11 April 2013

Just My Way..


Inilah aku, hidup dengan seorang wanita cantik dan juga satu malaikat mungilku yang jelita. Merubahku dari masa kelam yang tak pernah aku bayangkan.. Namaku Rian Santana, istriku Lidia Damayanti dan putri kecilku bernama Rilia Santana. Keluarga kecil yang bahagia..
                                                            ***
Jakarta, selalu ada pergantian manusia ketika malam menjelang dan pagi menyambut. Begitu seterusnya, pecandu kerja berlarian mengejar waktu di pagi hari, anak-anak sekolah mengejar bel sekolahnya dan wanita jalang berjalan tertatih pulang ke peraduannya. Oh jangan dilupakan, para binan pun menyeret langkahnya di pagi hari menuju surganya.
Aku hidup ditengah kota yang amburadul, di kawasan Jakarta menengah-kebawah. Tumbuh dan berkembang di kawasan yang sama, menuntut ilmu umum dan ilmu lainnya disana. Aku belajar banyak. Jangan ditanya bagaimana aku bergaul dan berkembang, jangan ditanya pula bagaimana orangtuaku mendidik anak laki-lakinya ini. Jangankan mendidik, menyapa dan menyentuhku pun tak pernah lagi semenjak aku kelas enam sekolah dasar. Aku sudah terbiasa.
Masa sekolahku tidak menarik, bahkan menurutku itu adalah sebuah mimpi buruk. Mimpi yang tidak pernah aku harapkan, ingin rasanya aku terjaga dan tak akan merasakan lagi yang namanya berkelana di alam mimpi. Semenjak kelas satu sekolah menengah pertama, aku termasuk golongan anak pintar, anak kutu buku dan rajin sekali mengunjungi perpustakaan untuk meminjam buku pelajaran. Ya maklum saja aku bukan anak dari golongan yang berada. Dari kondisi keuanganku, kondisi lingkunganku, aku menjadi anak pendiam dan enggan untuk bergaul.
Pernah suatu ketika temanku, Esa, mengajakku untuk main ke rumahnya. Karena pada dasarnya aku adalah orang yang senang bergaul, aku menuruti saja kemauannya tanpa mempedulikan isu yang bergema tentang Esa. Dia adalah orang yang, em..bisa dikatakan orang yang peduli pada kebersihan badannya. Bedanya dia sedikit agak, melambai, alias ya semacam lekong. Aku tidak peduli..
                                                            ***
 Sesampainya dirumah Esa, dia mempersilahkan aku untuk masuk ke dalam rumahnya. Dia anak orang berada, rumahnya mewah, halamannya luas, mobil tergeletak saja di garasi. Tapi satu kekurangan dari rumah ini, sepi. Ya sepi, hanya ada dua pembantu Esa, satu satpam, dan dua penjaga halaman atau pengurus taman. Orangtuanya sibuk bekerja, dan tidak di Jakarta.
“ Kok bengong, sini dong masuk. Ngapain di depan pintu gitu Ris?”
Dia memanggilku Ris, mungkin susah ya menyebut nama Rian. Aku mengangguk dan berjalan masuk ke ruang tamunya, besar. Itulah kesan pertamaku melihat ruang tamunya.
“ Ke kamar ajalah ya? Nggak asik nih disini, dikamar gue bisa nonton DVD juga kan.”
“ Oh oke, gimana enaknya lo aja deh Sa.” Ucapku santai, tanpa menaruh rasa curiga dan kesan menyinyirkan teman ‘baru’ku ini. Aku mengikutinya menuju kamarnya di lantai dua.
“ Lo tunggu sini, nih gue nyalain DVD Player-nya. Ini tumpukan DVD gue, lo pilih aja yang mana yang mau disetel. Gue mau kebawah minta dibikinin makan siang, lo mau nggak? Gue laper nih.”
Aku tak banyak bicara, aku hanya mengangguk dan kemudian Esa keluar kamar. Rasa ingin tahuku muncul, aku bangkit dari kasurnya dan melihat figura foto yang banyak tertempel di dinding juga di buffet-nya. Esa ternyata tampan, dan aku baru menyadarinya ketika melihat banyak fotonya yang menjadi cover salah satu majalah ternama.
“ Oh dia model.” Gumamku. Esa kembali dengan seorang pembantu permpuan yang membawa nampan berisi dua piring makan siang dan dua gelas minuman. Pembantunya cantik, sepertinya kisaran umurnya sekitar enambelas tahun. Pembantunya langsung bergegas keluar kamar setelah menaruh makanan di meja dekat televisi.
“ Pembantu lo cakep ye Sa?” Ucapku sambil menyikut perutnya.
“ Ah enggak, biasa aja. Nggak napsu gue. Haha. Ayok makan.” Ucapnya tenang seraya mengambil piring makan siangnya lalu melahap makanan yang ada. Sesuap demi sesuap, dan kemudian..
“ Buka mulut lo, nih gue suapin.” Aku kikuk, aneh. Kenapa dia bersikap seperti ini, tapi aku menuruti perintahnya. Aku membuka mulut..
                                                            ***
Semenjak aku datang kerumahnya, hidupku selalu diwarnai dengan Esa dan Esa. Sampai-sampai aku digosipkan pacaran dengannya. Oh tidak, tidak mungkin dia seperti itu. Dia masih normal, suatu saat dia pernah bercerita kalau dia pernah berpacaran dengan seorang wanita, tapi sayangnya putus ditengah jalan.
Aku sudah bilang, masa-masa sekolahku tidaklah seindah sinetron atau skenario film. Tapi argumenku berubah semenjak aku benar-benar mengenal Esa. Dia menjadi sahabatku, sahabat segala suka dan duka, seklaigus sahabat yang menuntunku kedalam dunianya. Dunia malam yang gemerlap, dunia yang tidak seperti lingkunganku. Ini dunia gemerlap menengah-keatas.
“ Lo harus coba ikut sama temen-temen gue Ris, dijamin nggak nyesel. Gue ajak ke Stadium mau kan?”
“ Iya, nanti gue kerumah lo jam delapan malem ya.” Esa mengangguk, dan aku berpikir. Mau pakai baju apa, kan aku orang miskin. Lalu bagaimana? Aku tidak ingin Esa malu ketika memperkenalkan aku sebagai temannya. Dan jam delapan tepat aku melaju kerumahnya. Dan sesampainya dirumah Esa, dia hanya terkagum-kagum melihatku hanya memakai kaos oblong dan celana pendek beserta sendal butut.
“ Yaampun lo nggak akan bisa masuk pake baju beginian, sini gue dandanin!”
Dia memilihkan pakaian yang cocok untukku, dia meminjamkan baju, celana, hodie, dan sepatu merk ternamanya untuk orang rendahan sepertiku. Setelah ada pakaian yang cocok, dia menyuruhku mandi.
“ Sa!! Gue udah selesai mandi, tapi mana anduknya iniiiiii!” Aku berteriak layaknya orang kebakaran jenggot. Esa hening, dan aku panik. Aku membuka tirai kamar mandi, dan ternyata dia ada dibalik tirai!
“ Astaga Esa! Ngapain lo disini? Ngintip gue?!” Sepertinya mukaku merah. Esa menyunggingkan senyum malu dan memberikan handuk yang dia pegang. Aku buru-buru menutup bagian vitalku. Kemudian aku mengenakan pakaian yang dia pilihkan, dan selama perjalanan ke Stadium aku terdiam, tak mengeluarkan sepatah kata. Dan suasana didalam mobilpun senyap.
                                                            ***
“ Hey broooooo!! Kenalin nih temen sekolah gue, namanya Rian.” Spontan gerombolan yang ada di meja itu menoleh kearah kami, dengan pandangan sedikit yaa bisa dibilang kurang bersahabat.
“ Oh, gue kira ini santapan baru lo Sa. Haha.” Tawa membahana dari meja kami, hiruk-pikuk kota Jakarta lenyap dengan dentuman suara musik cadas ini. Sang disc-jockey memutarkan lagu dengan beat yang cepat. Aku diam, berpagutan dengan bibir Esa.
                                                            ***
“Papaaaaa!!!”
“Eh sayang, kenapa? Mama kemana?”
“Ada di dapur, lagi masak Pa. Masak sayur sop loh!! Papa, aku tadi di sekolah gambar ini dong. Ada papa, mama sama aku. Trus ini nih ada Chiko, guguknya aku..”
Ah Rili, cantik seperti mamanya. Aku memeluk anakku. Anak yang paling aku sayangi setelah istriku. Tuhan benar-benar sayang padaku, enatah sudah berapa lama aku meninggalkan Esa. Mantan lelaki yang pernah mengubah jalan hidupku, mengubah orientasi seksualku. Namun Dama membawaku kembali pada hasratku, ya, wanita. 

0 komentar:

Posting Komentar