Pages

Subscribe:

Minggu, 07 April 2013

Bidadari Terbang (re-post)


     Seperti biasa, pagi ini aku merenung. Sebuah kebiasaan yang tidak pernah bisa aku hilangkan, aku merenung, merenung dan merenung. Sampai suatu ketika aku tesentak dengan apa yang aku renungkan, entah mengapa aku tersentak, namun satu kata terlintas begitu saja "wanita".
Ya, aku tersentak dengan renunganku.. Sedikit demi sedikit aku mengumpulkan kesadaranku yang masih berserakan di alam bawah sadarku. Aku mulai menyadari bahwa aku seorang wanita, aku berjalan gontai menuju kamar mandi. Rasanya aku ingin menenggelamkan semua masa lalu dan kehidupanku di dalam air. Di dalam air yang tenang.. Mengubur hidup-hidup tentang kenangan yang terukir, membasmi semua yang telah terjadi kepadaku. Dan aku hanya ingin mengatakan bahwa aku adalah penyuka sesama jenis. Terlalu banyak orang yang menghinaku, mencaci setiap perbuatanku, namun aku hanya menjadikan semua ocehan itu sebagai angin berlalu.. Alam sadarku menghentak, membangunkan agar aku bergegas membasuh badan. Menyegarkan otak yang sedang kusut bagai benang tak beraturan..
Aku mengguyur badan dengan air yang setengah hangat, menggosok gigi, dan selesai. Aku keluar dari kamar mandi, menuju lemari kemudian aku mencari pakaian dalamku. Terlihat seutas tali, aku tahu apa itu namun ku biarkan begitu saja. Aku tak mau melihat benda itu lagi.. Setelah sarapan, aku pergi menuju kantorku dengan rok mini, blazzer dan tentu saja dengan rambut cepak modis. Disaat aku bekerja, penampilanku terlihat sangat feminim. Diluar pekerjaan kantor, banyak yang tak mengenali aku..
Tidak banyak hal istimewa dalam hidupku, aku seorang pegawai sebuah kantor swasta ternama di Bandung. Aku bekerja sebagai sekertaris, aku memeriksa semua laporan yang akan bertengger di atas meja atasanku. Terkadang aku yang harus menjelaskan seluk beluk permasalahan yang terjadi. Aku mencari list nameku Reysa Indiana, aku ambil mengambil alat itu dan memasukannya kedalam mesin presensi.
Teeeeeet..
Aku telat 2 menit..
Waktu berjalan bagai siput, aku menunggu jam makan siangku. Pekerjaanku hari ini cukup ringan, tidak ada client yang datang dan protes terhadap kinerja perusahaan ini.
 Hidupku penuh dengan liku-liku, entah bagaimana aku bisa bertahan sampai saat ini. Ah Tuhan, aku rindu dia.. Dia yang memberikan aku semangat sampai saat ini.. Dia yang menghiasi hidupku.. Sedang apakah dia Tuhan? Bolehkah aku berbicara dan sedikit mengukir kenangan lagi bersamanya ? Bagaimana wajahnya sekarang, pertama aku bertemu dengannya, dia cantik, putih bersih bagai bidadari.. Aku rindu padanya.. Rindu setengah hidupku..
Aku tersadar akan lamunanku, entah berapa lama aku melamun. Beruntung atasanku tidak menyadari bahwa sejak tadi aku hanya merenung di depan komputer yang memandangku tajam. Dan akhirnya, jam makan siang pun tiba..
Selesai makan siang, aku kembali ke kantor. Berkutat dengan berbagai macam tumpukkan kertas, meneliti setiap laporan yang telah di ketik rapi. Terkadang aku muak dengan semua ini, berpura-pura bagai kupu-kupu yang akan bermetafora menjadi ulat, kemudian kepompong dan berubah lagi menjadi kupu-kupu. Sungguh menyedihkan.. Tidak pernah memiliki kehidupan yang baru, kupu-kupu itu hanya berubah bentuk ! Aku ingin menjadi angin, yang setiap saat bisa berhembus kemanapun yang ia mau..
Kriiiinggggg..
Nyaring.
Reysa memutar bola matanya, mengambil napas dan menghembuskannya kembali. Ia bergegas mengangkat telepon itu.
" Hallo selamat siang, ada yang bisa saya bantu? " Suara yang agak berat menggema di ruangan ini, dan itu adalah suara Reysa. Hampir 5 menit ia menenggerkan gagang telepon itu di telinganya, ternyata istri atasannya yang menelpon dan menitipkan pesan kepadanya. Kebetulan atasannya sedang meeting dengan relasi kerjanya.
“ Oh baik bu, nanti akan saya sampaikan. Selamat Siang.” Ucapnya penuh hormat. Percakapan di akhiri, ia meletakkan gagang telepon kembali kepada tempatnnya, ia menggeleng, dan kemudian bersandar di kursinya.
Jam pulang kantor  tiba, ia terburu-buru memasukkan segala barangnya ke dalam tas mungilnya  menyambar kunci mobil dan laptopnya. Bagaikan telah terburu waktu, ia pergi ke kamar mandi. Mengganti pakaian kantornya dengan celana jeans panjang, kaos gombrong, dan ia mencuci bersih rambutnya. Mengeringkannya dan berdandan layaknya laki-laki.
Ia mencari ponselnya, mengeluarkan seluruh isi tasnya. Ah ia sangat benci keadaan seperti ini, disaat ia terburu-buru dan terhimpit waktu. Ia menekan tombol di ponselnya..
" Hallo, kamu dimana sayang ? Tunggu aku ya, 15 menit aku sampai sana sayang. Bye, love you darling ". Telepon di tutup, Reysa berlari keluar kantor, melemparkan pakaian kantor ke jok belakang mobil. Menancap gas dan melaju menuju rumah kekasihnya..
                                                                                ***
Sudah lewat dari 15 menit, Indri, menunggu di teras halaman rumahnya. Menunggu seseorang yang tak lain adalah Reysa. Tepat saat ia akan masuk ke dalam rumah, klakson mobil terdengar nyaring.
Tiiiinnnn..
Reysa keluar dari mobilnya dengan napas terengah-engah, ia mengatur napas, masuk ke halaman rumah Indri, mengampiri Indri yang sejak tadi memandanginya dengan pandangan kesal.
" Maaf sayang aku terlambat, tadi ada meeting di kantor ". Ucap Reysa penuh kejujuran.
" Bukankah memang seperti itu dan selalu begitu ?" Jawab Indri singkat, ada nada kesal dalam ucapannya. Reysa yang merasa tidak dihargai, hanya bisa menahan amarahnya didepan gadis cantik ini. Dihadapan malaikat yang memenjarakan hatinya, yang membuat ia menuruti semua permintaan malaikatnya ini. Indri adalah gadis yang baru saja memasuki kuliah semester 3 di salah satu perguruan tinggi swasta, tentu saja Reysa memahami betul kondisi psikologis remaja di ambang ini.
" Aduh kok ngambek sih sayang, cantiknya ilang deh.. Senyum dong sayang, ini aku bawain ice cream buat kamu sayang.." Ucap Reysa menggoda sang malaikatnya.
Reysa mengecup kening Indri penuh dengan kasih sayang, dan kini, malaikatnya telah tersenyum kembali.. Mereka bergegas pergi, menuju sebuah mall. Rencana mereka malam itu adalah candle light dinner namun karena Reysa datang terlambat, terpaksa rencana itu ditunda. Mereka telah sampai, kemudian mereka memarkir mobil di dekat pintu yang menghubungkan koridor parkir dengan pintu masuk ke dalam mall itu.
" Sayang aku mau sushi, ayo kita ke resto Jepang. Pinta indri dengan nada manja.
Reysa hanya mengangguk dengan menghiasi senyuman di bibirnya, dan untuk ke sekian kalinya, Reysa terlihat lebih maskulin di bandingkan dengan pria yang mereka temui di jalan sepanjang mall ini. Setelah makan malam, ia membeli 2 buah tiket untuk menonton film.
" Mbak dua tiket untuk film ini". Ucap Reysa.
" Maaf  kak, tiketnya telah habis. Dan ini adalah jam tayang terakhir".
" Oh kalo gitu makasih mbak. Nada kecewa jelas tergambar dari ucapannya.
" Sama-sama kak.”
Wanita berumur 22 tahun itu berjalan menuju malaikatnya, dengan air muka yang menunjukkan bahwa ia kecewa. Disana, malaikat hatinya menunggu. Duduk manis di sofa yang tersedia. Kali ini, dan untuk ke sekian kalinya Reysa kagum dengan kecantikkan Indri. Gadis itu berambut panjang sepunggung, berkulit sawo matang, alisnya yang tebal, bulu matanya yang lentik, hidungnya yang mancung dan aaah.. bibirnya sexy sekali.. Malam ini Indri memakai hot pants dengan kaos kuning bertuliskan I Love my darl.
" Tiketnya mana bunny ? " Tanya Indri penasaran.
" Habis sayang, kita nontonnya besok aja. Gimana? Masih mau nonton film itu kan ?"
" Gausah deh sayang, udah ga pengen lagi". Nada bicara Indri mulai memperlihatkan tingkat kekecewaannya. Indri mencoba agar dia tak terlihat kesal di hadapan Reysa, wanita yang ia sayangi layaknya seorang pria. Sebenarnya Indri bukanlah seorang lesbian, ia baru pertama kali menjalin status "berpacaran" dengan seorang wanita.
 Aku mengenal Reysa 2 tahun yang lalu, saat masih berada di bangku kelas dua sekolah menengah atas. Reysa adalah kakak kelasnya, ia adalah seorang atlet basket. Aku tak menyangka, wanita yang aku kagumi, yang menjadi sahabatku dulu, yang aku anggap sebagai kakak, sekarang menjadi pelindung hatiku. Menjadi penerang hatiku, ia baik. Sangat baik, aku men... menyayanginya.. aku belum bisa mencintainya.. Karena aku bukanlah seorang lesbian.. Tapi.. entahlah, hanya saja aku merasakan kenyamanan luar biasa ketika bersama dengannya.
" Oke darl, go home hunny ?" Tanya Reysa penuh semangat,
" No, i wanna go. Im bored ".
" Where? " Rasa penasaran terselip saat Reysa berbicara.
" Gatau ". Jawab Indri ketus.
Mereka berjalan ke parkiran, memasuki mobil dan meninggalkan area parkir mall itu. Di dalam mobil, Reysa memainkan mp3-nya. Memperbesar volume dan lirik yang terdengar menunjukkan bahwa ia sedang memikirkan seseorang.. Seseorang dari masa lalunya..
  ** Nevermind i'll find someone like you.. I wish nothing but the best for you too.. Don't forget me, I begged.. I'll remember, you said.. Sometimes it lasts in love, but sometimes it hurts instead..
Indri tercengang, bukan, bukan ia ingin marah kepada si penjaga hatinya ini. Namun terlintas di dalam bayangannya, bayangan ketika ia masih berada di kelas dua sekolah menengah atas.. Saat ia belum terlalu dekat dengan Reysa, disaat dia masih menjalin kasih dengan pria..
 Aku akan selalu menyayangi kamu Indri, jadilah malaikat didalam hatiku.. Aku terlalu lama mengenalmu, merasa nyaman denganmu, apakah kamu tidak merasakan hal itu ? Jawab pertanyaanku ini saat pengumuman kelulusan besok.. Karena setelah itu kamu tidak akan bisa bertemu denganku.. Aku akan pergi dari kota ini..
Indri tersadar dari lamunannya, ia teringat kembali semua ucapan Reysa. Semakin sadar saat penjaga hatinya  memperhatikan gerak geriknya.
" Siapa yang kamu pikirkan ? Masa lalumu ?" Tanya Reysa dengan datar.
" Ah no, i just.." Ucapan Indri terbata-bata saat Reysa bertanya apa yang ia pikirkan.
" Semua orang punya masa lalu sayang, masa lalu kita jadikan cerminan diri kita hari ini.. Aku tau kamu sedang memikirkan pria yang pernah menjadi bagian hidupmu".
" Maaf sayang, tapi lagu itu membuat aku mengenang semuanya.."
" Nevermind hunny".
Reysa kembali menikmati kebersamaan mereka, hampir mustahil mereka menghabiskan waktu seperti ini. Reysa terlalu sibuk dengan pekerjaannya di kantor. Indri sangat bersyukur memiliki pasangan seperti Reysa, mengerti dengan apa yang ia alami. Mobilnya telah sampai di sebuah lembah di ujung kota, mereka berhenti disana sambil menikmati suasana malam Bandung.
" Hunny, are you serious with me ? I mean, you love me ? " Tanya Reysa serius,
" Kamu ngomong apaan sih sayang, tentu saja aku men.. menyayangimu sayang". Jawab Indri dengan ragu.
 Maafkan aku yang saat ini telah membohongimu.. Aku memang menyayangimu, tetapi, aku belum siap.. walaupun sudah hampir 2 tahun aku menjalin kasih bersamamu..
Indri memeluk Reysa, memeluknya penuh dengan rasa sayang.. Memeluknya dengan perasaan setulus hatinya. Ia tak akan pernah sanggup melepaskan wanita ini, wanita yang dua tahun telah mengisi hari-harinya. Reysa terkejut karena tiba-tiba dadanya hangat oleh linangan air mata malaikatnya.
Aku mencintaimu Indri, lebih dari aku mencintai kekasih sebelum kamu.. Risa.. Dia adalah wanita yang paling aku cintai, sebelum aku menemukanmu.. Sebelum aku memantapkan hatiku untukmu.. Sebelum aku mengerti kamu, sebelum aku memahami kamu, sebelum aku... Aku melupakan semua kenangan bersama Risa.. yang seharusnya masih aku kenang sampai saat ini..
" Hapus air matamu sayang, aku tetap disini. Aku akan menjagamu, seperti yang aku katakan saat aku meminta jawabanmu atas pertanyaanku". Ucap Reysa dengan tulus. Indri melepas pelukannya, air matanya telah kering.. Disapu oleh tangan halus si penjaga  hatinya. Reysa mengecup kening dan bibirnya, membuat Indri semakin merasa nyaman dan tenang. Malam telah larut, bintang pun makin menghiasi malam itu. Malam yang kelabu bagi para penghuni alam lainnya.
                                                                                                ***
Risa adalah wanita tercantik yang pernah aku temui, wanita yang sangat aku sayangi, wanita yang aku sebut sebagai bidadari hatiku. Dia pergi, menjauh, terbang, melayang, untuk selamanya. Takkan pernah kembali, jauh dia melayang. Dia telah pergi, menghampiri pemiliknya. Menitipkan salam lewat hembusan angin.
Sabtu malam, jalan begitu ramai. Jakarta malam itu ramai, bagai semut yang berkumpul di sarangnya. Berkumpul mencari makanan manis, membagi sama rata namun memperbanyak jatah untuk sang ratu.
" Kamu dimana sayang ?" Tanya Reysa dengan nada yang sangat halus,
" Aku dijalan baru pulang kantor sayang, kamu langsung ke kost aku aja."
" Ok, see you later hunny."
Telepon di tutup, bagi Reysa, suara Risa adalah suara terindah yang pernah ia dengar. Ia mencintai Risa lebih dari ia mencintai dirinya sendiri. Beberapa menit kemudian, ponselnya kembali berdering. Nomor baru, dengan nomor awal 021, Reysa menerima panggilan dari nomor itu.
“ Hallo ?”
" Hallo kak, ini pacarnya mbak Risa ya ?"
" Iya ini siapa ya?" Terselip nada gusar dari perkataan Reysa.
" Ini pihak rumah sakit, saya memberitahukan kalau mbak Risa barusan kecelakaan."
" Hah? Baik saya akan kesana." Reysa terkejut, sama sekali tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. Reysa melangkah dengan langkah lebar, melesat bagai kilat. Seakan tak percaya bahwa kekasihnya baru saja mengalami kecelakaan. Reysa tiba dirumah sakit, sepuluh menit kemudian, dan ia langsung menuju ruangan yang bertuliskan UGD. Ia memaksa masuk, ia ingin segera melihat keadaan kekasih tercintanya.
" Sayang, bagaimana keadaanmu? Kenapa bisa begini sayang." Suaranya kian berat ketika melihat banyak perban di kepala kekasihnnya itu.
Air mata mengalir deras di pipinya, saat itu ia benar-benar menunjukkan betapa lemahnya seorang Reysa, menunjukkan betapa ia butuh bidadarinya ini. Belum ada reaksi apapun dari Risa, ia masih hening, masih diam, masih berbalut perban di kepalanya, masih tersuntik jarum infus. Ruangan ini penuh sesak dengan berbagai bau obat. Bau khas rumah sakit.
" Reysa.. Rey.." Suara lirih Risa memecah keheningan.
" Iya sayang, aku disini. Kamu sadar sayang ? Oh Tuhan terimakasih." Ucap Reysa bahagia. Namun seketika itu juga, suaranya menjadi parau. Hatinya pilu, sangat pilu.
" Sayang, aku sakit. Aku ga kuat. Aku mau bilang sesuatu ke kamu. Kamu harus jaga omongan aku ini dan melaksanakannya." Susah payah Risa mengeluarkan satu baris kalimat.
" Iya sayang, aku akan mendengarkan dan melaksanakannya jika aku mampu." Ucap Reysa penuh kesungguhan.
" Aku punya sahabat, dia Indri. Dia menyukaimu sayang. Dia menyayangimu, aku memang mencintai dan menyayangimu. Tapi waktuku sebentar lagi, aku sakit, aku takkan kuat sayang. Jaga dia, jadilah kekasihnya. Jadikan ia penggantiku, jadikan ia sebagai ratu yang bersemayam di hatimu sayang. Aku mencintaimu, sampai napas terakhirku ini."
" Kamu ngomong apa sayang ? Kamu ga akan..."
Tuuuuuuuttt......
Mesin detak jantung berbunyi, menandakan telah hilangnya satu nyawa yang berada diatas ranjang itu. Reysa berlari keluar, menarik paksa daun pintu yang tertutup rapat, memanggil dokter dan suster yang berjaga diluar ruangan. Dokter bekerja dengan susah payah, mencoba memastikan keadaan wanita itu. Reysa menunggu diluar dengan cemas, panik. Entah apa yang harus ia lakukan jika –seandainya— Risa tidak dapat di selamatkan.
Beberapa menit berlalu dengan kesunyian, ketegangan, hening. Ah tunggu, bukan beberapa menit, tetapi hampir satu jam ! Satu jam Reysa menunggu dengan gelisah, dengan ketegangan yang ada di sekujur tubuhnya. Kemudian sesosok pria muncul dari ambang pintu, ia menggunakan jas putih dan mengalungkan stetoskop di lehernya. Ia menepuk bahu Reysa. Reysa menoleh dan melihat bagaimana air muka dari sang dokter.
" Maaf dik, kamu harus terima. Dia tidak bisa di selamatkan." Suara dokter memecah lamunan Reysa. Seakan tak percaya dengan apa yang diucapkan sang dokter, hampir saja Reysa berteriak disana.
" Nggak dokter, nggak mungkin !" jelas terlihat kegusaran hatinya, apa yang ia pikirkan ternyata terjadi.
" Sabar dik, ini kenyataan. Permisi saya masih ada pasien lagi." Dokter itu menghilang di ujung lorong yang berkelok.
Reysa kembali masuk ke dalam ruang itu, sudah tidak ditemukan lagi, tidak  ada siapapun disana, hanya ranjang putih yang kosong. Ranjang itu memanggil, seakan menariknya untuk menghampiri ranjang itu. Terdapat secarik kertas, ia mengambilnya, membuka lipatan kertas itu dengan hati-hati.
 **Aku sayang kamu Reysa, kau adalah wanita yang paling aku cintai selain ibuku. Kau yang membuat aku bertahan dengan penyakitku, kau yang memberi cahaya dalam hidupku. Kini hidupku berakhir, lakukanlah apa yang aku pesankan kepadamu. Sayangi dia, tumbuhkan benih cintamu untuknya. Aku akan bahagia disana, aku akan tetap mengamatimu dari atas sana. Ini akhir hidupku, ini berakhir untukku, namun tidak untukmu. Berjanjilah kau akan selalu menyayangi aku, berjanjilah kau akan mencoba menyayanginya, menyayangi Indri, sahabat yang aku anggap sebagai keluargaku. Berjanjilah kau akan tetap hidup unutk mengenang semua kenangan tentang kita, tentang apa yang kau ukir dihatiku. Salam sayangku padamu, Risa..
Bagai air bah yang tak terbendung, ia terjatuh, temenung di lantai ruangan itu. Lantai yang dingin, dingin bagai salju, seperti hatinya saat ini. Dia tak menyangka semuanya telah terjadi. Dia tidak mempercayai semua ini. Ini hanya mimpi. Dan ia akan terbangun, sebentar lagi.
                                                                                ***
" Ayo kita pulang hunny sayang, sudah malam." Reysa mengamit lengan Indri.
Indri masuk kedalam mobil, Reysa pun menancap gas dan mereka pulang. Reysa mengantarkan malaikatnya menuju perlindungannya, rumahnya, rumah yang akan menjaga dia, menjaga dari segala bahaya yang mengancam.

Tetaplah jadi malaikatku, gantikan bidadariku yang telah terbang. Dia telah kembali, kembai ke surga. Kini ia mengutusmu untuk menjadi malaikat didalam hatiku. Aku mencintaimu Indri.. dan aku berharap, kau bukan malaikat yang selanjutnya akan terbang..

                                                                                ***
Waktu berlalu sangat cepat, Indri telah lulus dari studinya. Kini ia bergelar S1, terdapat gelar di belakang namanya. Entah sudah berapa lama ia mendambakan saat ini, berpkaian hitam dan memakai toga khas mahasiswa yang menjalankan wisuda kelulusan. Senyum merekah tergambar dari wajah oriental itu. Menambah efek cantik terhadap wajahnya.
“ Mama, papa.. Aku lulus, aku udah wisuda.” Ucapnya dalam hati.
Ia sangat merindukan kedua orangtuanya, kedua belaian kasih sayangnya. Indri adalah korban dari keluarga broken home. Saat ini, ibunya berada di Korea. Ibunya ikut pindah bersama suami barunya. Sedangkan ayahnya, entah kemana. Ia tak pernah tahu tentang kabar ayahnya. Selama berkuliah, ia hanya tinggal sendiri. Di sebuah rumah kost yang sederhana, yang membuat hatinya nyaman. Yang banyak mengukir kenangan, kenangannya bersama seorang wanita. Wanita yang seharusnya tak pernah ia cintai, wanita yang harusnya menjadi kakaknya.
 Aku merindukanmu Reysa, sangat merindukanmu. Bagaimana keadaanmu saat ini? Bolehkah aku menghampirimu? Aku sangat merindukanmu Reysa.. Aku benar-benar ingin bertemu denganmu, memelukmu seperti saat kita masih bersama. Masih menghabiskan waktu bersama. Aku ingin bertengkar denganmu, aku ingin merasakan pelukanmu lagi. Tuhan, bagaimana keadaannya saat ini?
Air matanya menetes, menetes satu persatu. Membasahi pipinya yang halus. Ia berjalan gontai menuju sebuah bangku panjang, berada di ujung taman kampusnya. Bangku itu berwarna putih, warna yang ia sukai. Warna yang melambangkan kesucian. Indri duduk diujung bangku, mengamati teman-temannya yang sedang berbahagia bersama orang yang mereka sayangi. Terkadang Indri tersenyum dengan apa yang ia lihat. Sedetik kemudian, ia kembali memutar kenangannya. Tiga tahun yang lalu sebelum ia kehilangan penjaga hatinya..
                                                                                                ***
“ Hunny !” Sapa Reysa
“ Astaga Tuhan, kau membuat aku jantungan !” Cibir Indri dengan nada kesal.
“ Hahaha kamu lucu kalo lagi manyun.”
Hening, dan kemudian, ledakkan tawa tak terelakkan lagi. Mereka berdua tenggelam dalam suasana bahagia. Mereka saling peluk di sebuah taman bunga, taman yang memberikan kesejukkan di dalam hati. Taman ini tidak ramai dan tidak sepi, namun cukup untuk mengobati penat sehabis berkuliah atau bekerja. Ini adalah suasana sore terbaik yang mereka dapatkan.
“ Sayang, aku mau bilang sesuatu.” Nada bicara Reysa agak kaku, sehingga membuat Indri heran. Ia merasakan ada yang aneh dengan kekasihnya ini.
“ Mau bilang apa sayang ?” Tanya Indri halus. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Reysa, ia menutup mulutnya rapat-rapat. Seakan-akan ada sesuatu yang sangatlah penting.
“ Tidak, aku hanya ingin mengatakan bahwa aku sangat mencintaimmu.” Kecupan lembut mendarat di pipinya, di pipi kekasihnya. Wanita yang sangat ia cintai, saat ini..
Indri hanya tersenyum, menampilkan giginya yang rapi dengan bracket behel yang menempel di giginya. Ia membalas kecupan di pipinya, ia balik mengecup pipi kekasihnya. Mereka berpelukkan, seakan-akan ingin mengatakan pada dunia bahwa mereka tak dapat dipisahkan. Sekalipun maut telah ada didepan mereka.
“ Hunny, I’am hungry. Let’s find some food.” Pinta Reysa.
“ C’mon.” jawab Indri singkat.
Mereka beranjak dari taman, mencari kafe terdekat yang ada di taman itu. Lalu mereka memilih kafe yang menjajakkan berbagai macam sushi, mereka berdua adalah penggemar makanan khas Jepang. Mereka memilih meja di ujung kafe ini, Karena kafe ini terletak di sebuah pinggir jalan. Setelah membaca menu, mereka kembali berbincang. Terlihat jelas di wajah Reysa kebahagiaan yang menyelimuti hatinya. Begitupun Indri, ia benar-benar mencintai Reysa setelah sekian lama ia meragukan hubungannya dengan wanita ini.
“ Hunny, wait a moment. Aku mau ke toilet, jangan menghilang ya.” Goda Reysa.
“ Kamu tuh apaan sih sayang. Haha”
Reysa beranjak dari  mejanya, Indri kembali terkesima dengan aura yang ditunjukkan dari tubuh kekasihnya. Ia mengamati Reysa yang saat ini menggunakan celana jeans pendek, kaos oblong, kemeja berwarna hitam, dan sepatu sneakers putih.
“ Tampan.” Gumam Reysa. Tiba-tiba ia mengingat ucapan Risa, sahabatnya yang telah lama meninggalkan dunia ini. Meninggalkan kekasihnya yang kini menjadi kekasihnya. Ada rasa bersalah dalam lamunan Indri kali ini, dan untuk kesekian kalinya ia merasakan tak pantas mendapatkan Reysa.
“Kalau kau menyukainya, aku akan berikan dia untukmu Indri. Aku takkan lama berada di dunia ini. Dan aku tahu kau sangat menyukainya. Gantikan aku ketika aku tak lagi menghirup udara segar, aku yakin dia juga akan menyayangimu sama seperti ia menyayangiku saat ini. Yang akan aku pinta dari kalian berdua hanyalah sebatas mengingatku. Jangan melupakanku. Ingat itu ya Indri ! hahaha”.
“ Itu yang kau ucapkan, aku akan selalu mengingatmu Risa. Kau sahabat terbaikku. Aku akan menjaga kekasihmu.” Lirih, Indri tak sadar telah mengucapkan kalimat itu. Dan ternyata Reysa telah berada dihadpannya. Memperhatikan apa yang Indri ucapkan.
“ Hey sejak kapan kau ada dihapanku?” Tanya Indri heran.
“ Lima menit yang lalu.”
Reysa tertawa melihat keterkejutan kekasihnya ini. Sushi yang mereka pesan telah terhidang, tanpa basa-basi lagi mereka melahap makanan yang ada di mejanya. Setelah selesai menyantap makanannya, mereka bergegas pulang. Karena matahari telah tidur, digantikan dengan bulan yang baru saja bangun dari tidurnya yang lelap. Sepanjang perjalanan pulang hanya alunan lagu yang terdengar, rupanya Indri tertidur.
 “ Mungkin kecapekan.” Ucap Reysa seraya membelai rambut kekasihnya.
Mereka sampai, dan Indri terjaga dari tidurnya.
“ Eh udah didepan kost ya? Aduh maaf sayang aku ketiduran, yaudah sekarang kamu langsung pulang ya. Mandi dan istirahat. Hati-hati dijalan yah sayangku.” Indri mengecup bibir Reysa.
Reysa hanya tersenyum, kemudian Indri keluar dari mobilnya. Melambaikan tangan untuk melepas kepergian kekasihnya. Ia tetap berada diluar kost sampai mobil yang dikendarai Reysa menghilang di ujung jalan. Baru saja ia berjalan dua langkah, terdengar suara benturan yang amat keras.
Braaaaaaaakkkk !!
Indri kaget, ia berlari ke ujung jalan. Napasnya terengah-engah, dan hampir berhenti bernapas ketika ia sampai di ujung jalan. Disana ia melihat mobil yang dikendarai Reysa. Ia berlari membabi buta kearah kerumunan orang-orang yang berkumpul disekitar mobil Reysa.
Tangisnya pecah ketika ia mendapati Reysa berada di troroar jalan, dengan keadaan tubuh yang sangat mengenaskan. Ia menangis sekuat tenanganya. Ia mengahmpiri Reysa, ia memegang tangan Reysa. Memastikan nadinya masih berdetak, dan ternyata memang masih berdetak.
“ Kenapa gini sayang? Aku udah bilang hati-hati !” Antara sedih, marah dan perasaan lain bercampur.
“ Dan kenapa kalian diam? Panggilkan ambulance ! cepat ! Apa tak ada jalan lain selain membawanya menggunakan ambulance ?” Indri berteriak kepada orang-orang yang berkerumun.
“ Sudah mbak, kami sudah menelpon dan mereka sedang menuju kesini.” Jawab salah satu warga yang berada disana.
Indri benar-benar merasa hancur, seluruh tulangnya seperti lumpuh. Ia tak mampu berdiri, ia hanya bisa menangis dan menunggu ambulance datang. Beberapa menit kemudian ambulance datang, tubuh Reysa yang berlumur darah di naikkan ke atas ranjang dan dimasukkan ke dalam ambulance itu. Indri ikut masuk, ia ingin memastikan keadaan kekasih tercintanya ini. Selama perjalanan menuju rumah sakit, Indri berdoa pada Tuhan agar Reysa bisa selamat. Ia tetap memastikan denyut nadi Reysa. Tiba-tiba Reysa membuka sedikit kelopak matanya, mencoba berbicara sepatah kata pada Indri.
“ Kalau aku pergi, tolong sampaikan pada keluargaku bahwa aku ingin di makamkan di sebelah makam Risa. Sampaikan itu, dan yang harus kau tahu. Aku sangat mencintaimu Indri. Jaga dirimu kalau aku pergi jauh, aku menyayangimu..”
Belum sempat Indri menjawab semua perkataan Reysa, dia terlambat. Reysa mengejang, matanya tertutup. Dan.. Reysa meninggal dunia.. Dia benar-benar pergi, dan saat ini Indri telah kehilangan semua orang yang benar-benar ia sayangi. Indri menjerit histeris, dia tak kuasa menahan kesedihannya yang sangat dalam ini. Dia benar-benar tak sanggup lagi..
                                                                                ***
“ Hey Indri, ayo kita pulang. Ngapain ngelamun disini?” ucap Aldo, Aldo adalah pasangan Indri saat ini. Ia adalah pria yang bisa membuatnya semangat dan bangkit dari keterpurukkannya, dan Aldo menerima Indri dengan segala masa lalunya.
“ Ah tidak, aku hanya ingin duduk disini sayang. Ayo kita pulang.” Indri bangkit dari bangku, mengamit lengan Aldo. Dan mereka pergi dari lingkungan kampus.
Aku sangat menyayangimu Reysa, aku belum bisa melupakanmu dan mungkin takkan pernah. Saat ini aku dilindungi oleh pria ini, pria yang nantinya akan menyuntingku. Aku harap kau bahagia dengan keadaanku sekarang, sampaikan salamku pada Risa. Aku yakin kalian telah bertemu di surga.. dan ternyata cinta kalian memang sehidup semati, walaupun aku tahu kau juga menyayangi aku seperti kau menyayangi Risa..
                                                                                SELESAI

0 komentar:

Posting Komentar