Pages

Subscribe:

Senin, 23 Desember 2013

Mama dan kamu.

Mama. Wanita paling penting buatku, bidadari tanpa sayap yang membesarkan aku dg segala caranya. Beliau satu-satunya wanita yang bisa membuatku menyesal sampai akhir hayat.
Bapak. Pria yang sangat sangat bijaksana, walaupun kadang menyebalkan dan kadang membuatku muak dengan peraturannya. Tapi aku tau, beliau berusaha melindungi aku dan adik-adikku dg caranya.
Kamu. Hai! Selamat datang di lingkaran hatiku. Hatiku sudah penuh, terbagi rasa sayangku antara Mama, Bapak, kedua adikku, Pepi. Dan kini, kamu berada di urutan ketiga setelah Mama dan Bapak.
Kamu, Mama. Sama-sama wanita yang tidak akan pernah bisa aku pilih. Kamu, wanita pemilik hatiku, hati yang aku tambatkan kepadamu. Mama, pemilik kehidupan setelah Tuhan menitipkan aku kepadanya. Jangan pernah membuatku memilih. Karena kalian berdua adalah segalanya, segala-galanya yang aku butuhkan. Kalau bisa di ibaratkan, Mama adalah nafasku, kamu adalah paru-parunya♥

Sabtu, 07 Desember 2013

Page one on December


7th Dec, 2013
Kecewa bukan hal yang tabu, bukan hal asing lagi yang sering di perbincangkan. Kadang hati tak bisa mengungkapkan, terkadang hanya butuh tuts keyboard di dalam laptop. Mulut ini tak mampu merangkai kata, lidah ini pun kelu. Hanya hati yang bisa merasakan bagaimana sakitnya di kecewakan, di bohongi, dan di khianati..berulang kali..dalam skala yang kecil..dan sepele..untuk..masing-masng individu.
Adakah disini mengerti bagaimana bentuk sebuah pengkhianatan?
Adakah disini mengerti bagaimana merajut kepercayaan dari sebuah pengkhianatan?
Adakah disini mengerti bagaimana cara menghukum seorang pengkhianat?
Adakah disini membela si pengkhianat?
Adakah disini mengerti mengapa si pengkhianat berkhianata?
Adakah disini melihat sisi lain dari bentuk pengkhianatan itu?
Adakah disini tak membalas bentuk pengkhianatan apapun?
Hubungan yang berlangsung lama tentu saja menimbulkan titik-titik kejenuhan, MUNAFIK jika tidak pernah merasakan kejenuhan, bosan dan tergoda dengan perhatian orang baru. Bisakah semua orang menjadi jujur pada hatinya masing-masing? Dunia ini terlalu sempit untuk mengenal kata setia, setia pada satu hati.
Apakah semua orang disini suci dari kebohongan? Pengkhianatan?
Rasanya tidak adil menguhkum seseorang yang berkhianat secara terus menerus, bukankah Tuhan mengampuni dosa setiap hambanya? Mengapa si pengkhianat tidak terampuni oleh kekasihnya? Apakah kekasihnya melebihi kesabaran dan kelapangan dada Tuhan?
Pernahkah disini melakukan kebohongan dan bercerita kepada pasangannya bahwa kamu telah membohonginya?
Pernahkah terpikir sedikit bagaimana rasanya disepelekan? Di abaikan? Di jadikan pajangan bagi sebuah hubungan?
Apakah hati terbuat dari serat-serat fiber yang bening namun rapuh?
Bukan sebuah pembelaan diri, tulisan ini hanya segelintir titik dari hati yang tak terungkap. Hanya di jadikan sebuah tulisan agar menghibur hati yang tak dapat mempercayai mulut seseorang. Hanya menjadi jembatan antara hati dan tuts keyboard. Salahkah menuliskan ini? Adakah yang membenarkan bahawa keterbukaan hati dan mulut kadang tidak relevan?
Bukankah hati tak berbohong tapi mulut berkhianat?
Apakah disini menghukum mulut?
Keadilan tak pernah didapatkan untuk pengkhianat, cukup saja salah satu diantara pasangan yang berkhianat. Jika keduanya berkhianat, apa yang tersisa dari sebuah hubungan?
Pengkihanatan itu sendiri kah? Atau keduanya sama-sama rapuh untuk memantapkan kekuatan hati?

Bagi sebagian orang, pasangan yang kuat menciptakan hubungan yang sangat sangat sangat lama. Dan seharusnya pula, kita mulai memepercayai mitos yang tidak semua orang percaya dan mengerti. Bahwa tidak akan ada hubungan sehat tanpa canda, tawa, derita, dan pengkhianatan.

Kamis, 21 November 2013

Page one from November

Kamis, 21 November 2013, 22:23 WIB

Aku bergelung dalam pemikiranku, pemikiran yang entah apa wujudnya. Aku tak pernah tahu bagaimana caranya mengakhiri semua yang pernah aku mulai, aku memulai mencintai dan tak bisa mengakhiri. Sebuah kisah klise yang harusnya dapat aku antisipasi akibatnya, namun aku kalah telak! Aku kalah mengahadapi luapan cinta yang entah kepada siapa ia bertuan. Memuja ratuku, ya memuja ratu hatiku.  Malam ini hari kesekian dimana aku memulai perjalanan panjangku terhadap kasih sayang, aku berjalan diatas kasih sayang dan mencari arti makna cinta. Sejauh ku melangkah saat ini, cinta enggan menghampiriku. Mungkin aku belumlah menjadi bagian dari cinta yang di agungkan oelh kebanyakan manusia di dunia.
Apakah aku jengah? Ya, aku jengah dengan teori timbal balik serta teori kecintaan yang bentuknya abstrak! Tak tersentuh namun terasa, bagaimanakah aku mengerti tentang hidup ini? Kulalui hari bersamanya, satu hari..sampai beratus-ratus hari. Hidupku hanya tergores namanya, setiap detikku, menitku, jamku, hanya berisi goresan namanya. Aku mengagunggakn cinta untuknya, mencari makna cinta yang tak pernah aku mengerti. Jangankan mengerti, mengucapkannya pun aku tak bisa.
Bukan karena aku tak bisa mencintainya, namun teori kecintaan yang begitu dalam belumlah aku pahami. Aku masih bisa menyusuri jalan kasih sayang sampai beribu tahun lamanya. Hai kasih, pekakah engkau terhadap hatiku? Mungkinkah hati kita bersatu dalam hubungan tapi tidak dalam perasaan? Hai sayang, pernahkah kau mengkhianatiku seperti aku pernah mengkhianatimu? Percayalah, aku bisa gila jika kau membuatku dilema! Sungguh! Tak pernahkah kau melihat aku seperti orang gila yang meraung atas nama kesakitan? Bisakah kita sudahi sandiwara baik-baik saja dalam hubungan ini? Bukankah kau lelah dengan semua apa yang aku katakan? Bisakah kita mengakhiri ini, sayang? Mengakhiri yang seharusnya kita akhiri, bukan kita yang di akhiri. Mengakhiri masalah kecil, bukan masalah besar. Mengerti maksudku bukan, sayang?
Kali ini aku menuliskan hujan, rintik hujan menandakan air mata jatuh yang tertutup air. Aku mengerti bahwa kau juga tak menyukai apa yang membuatmu sakit, mungkin aku? Ya, aku. Kau pasti membenciku seperti aku membenci diriku sendiri. Tulisanku tak berharga, bagiku, kau lebih dari harga yang tertempel di barcode setiap pakaian. Kau mutiara, tak berbentuk bulat namun perlu bertahun-tahun untuk menghasilkan kualitas terbaik. Kau tahu sayang? Setiap hembusan napasku berhembus doa, berhembus banyak harapan yang ingin aku capai bersamamu. Apakah kau mengerti tentang ini, sayang?

Aku bisa menuliskan hujan lebih banyak dari ini, tapi aku tidak mau menjadi mainstream, cukup bagiku menjadi mainstream karena mencintaimu. Mencari arti cinta dan menerapkan teori kecintaan yang dalam. Kau pasti mengubah hidupku, entah bagian mana yang telah kau ubah. Darahku bersamamu, peluhku bersamamu, tubuhku milikmu, semua yang aku miliki adalah milikmu. Kecuali satu hal, pemahamanku atas apa yang terjadi. Otakku adalah bagian terpenting setelah orang-orang yang aku sayangi. Kau harus tahu, menyayangi penuh dengan perjuangan, merawatmu hingga kau tumbuh menjadi mawar yang merekah tidaklah mudah. Jadilah mawarku, walaupun kau berduri dan menyakitkan ketika di sentuh tapi kau indah untuk dipandang dan di miliki. <3 

Rabu, 16 Oktober 2013

A r-e-l-a-t-i-o-n-s-h-i-p EQUAL relationship

Having a relationship? You’ve? I’ve, and it’s about two years when Oct 26. How i explain about relationship? Um... Like a marriage i thought. But, are you know what the real mean? Let’s explain some argument from the people.
  • First people        : Pacaran itu ya punya hubungan sama orang lain, jadian lah.
  •  Second people : Satu ikatan yang di isi oleh suatu pengertian, perhatian, kejujuran&kesetiaan.
  • Third people      : Pacaran tuh nyantai, nggak usah ngekang, pacaran tuh sersan. Serius tapi nyantai.

That’s some argument that i’ve, I can’t write all about it. But from the outline, we know if having a relationship is not easy like we said it.

For example:
“ I have a cheating. Cheat from her heart, she is very very angry and dissapointed to me. All i do is wrong in her eyes, everyday like a hell for me. Why? Because she always look my mistakes, she isn’t forgive me. She said “paling nanti juga gitu lagi, dia nggak akan berubah.” What i must do if her mindset is that? Am i wrong if i was apologize and want she now im change? Canyou give me a solutions?”
The relationship must have some key, yap! that’s make a relationship working. But i dunno how it’s working to some people had a traumatic or people said “I’ve a traumatic” with this pain.
  1. 1.       Believe

Don’t walking at one relatonship if you can’t belive to your partner. It’s hurt even you know your  partner can’t believe you anymore. Like.. you’ve a mistakes. But your partner still remember it and not tryin’ to forgive you. She/he obey your apologize and said “nothing, i was forgive you since yesterday.. what are you doing is right”. Oh damn! I very very dislike his/her answer.
  1. 2.       Tryin’ to forgive a mistakes

Everyone had a mistakes. It’s only a human doing. But i dunno if your partner make the same mistake for a long time. You must know, why your partner doing it? You must ask, you must talking by heart. Don’t use your ego. Talk with your heart, talk with his/her eyes and then? Hug you partner. It’s really comfortable if you fight and you’ve a hug J
  1. 3.       Open the new sheets

Try to had a new sheets, blanks sheet. And there’s nothing except white paper, no question mark, nothing, nothing. Your partner and you must had it. You can’t walk and saw the past, you must look the future.  How you life, how you choose your partner in the future, etc. Im pretty sure, it’s working than you fight with your mouth!

Your partner is human, not robot. She/he can do anything they want, and you? You too. It’s not wrong if you have a cheating with someone else, the true love is uniqe. It can be a GOD if you two had a love. But still remember, if you had a pain, give your partner a knowledge. Knowledge about how you feel the pain becase him/her attitude. Nothing is perfect, but you can be a perfect partner if you have a stonger of love. Try it, and i hope your partner can apolgize you and one thing.. “she/he can forget it, and the pain not come back to shadowing your relationship.”

Selasa, 10 September 2013

to be an EVIL

haloooooo..
baru sempet buka blog dan kepikiran buat nulis nulis nggak jelas gini..

eh iya, masih inget gue pernah nyolong cerita tentang minta balikan sama mantan tapi nggak di respon?
oh guys, that's so hurting and i know no one from you want to feel it. but i was. it's like you walking on ice, and you couldn't walk again. sakiiiiiitttttt banget. apalagi kalo udah masuk yang namanya zona harapan-palsu. wew, be carefull! in this zone, you can't angry to your partner because actually you're not she/his partner. right? you must remember even you dont know what happen, you must ask to yourself  what you must to do. balikan sama mantan sah sah aja selama mantan yang kamu kejar itu RESPON dan gak cuma ngasih HARAPAN PALSU ya. dikasih harapan palsu tuh sakit, ya sakit banget lah ya kayak jatoh dari motor trus kelindes ban mobil. bah! rasanya remuk deh tulang.

mantan yang nggak tau diri itu...
1. udah diajak balikan sama mantannya tapi tetep ngegantung dan gak jawab-jawab
2. udah kayak pacaran tapi deket juga sama yang lain
3. pura-pura ga seka atau deket sama orang lain, padahal sebenernya lagi deket sama orang
4. ngaku blm punya pacar dan ternyata punya pacar dimana-mana
5. sok polos padahal busuk

okelah mantan mah pasti mikirnya "ngapain sih balikan sama dia, toh gue juga lagi deket sama yang ini. lebih perhatian, lebih.lebih..bla,bla,bla" ini orang yang kayak gini pantesnya diapain? *kubur hidup-hidup*
selain mantan busuk, orang yang gatau diri dan pinter drama juga ngeselin bin memuakkan sih. jauh jauh deh kalian klaian dari gue!

Kamis, 13 Juni 2013

Do you remember the thing what we do?



There are 6,800,000,000 people on the earth and I only want you, dont you remember when I choose you than my girlfriend? its so difficult and im feel so confuse..
Oct, 26th 2011. wow, its so long ago rigt? do you remember thing waht we do?

Let me explain, from the begining until now..

the first time I try meet you.. 
no, i never meet you before. I know you from my ex-gf. Ad then I moved to Jogja from Bekasi, do you know what I think for the first time? I find ways to meet you, haha its so silly thing when I remember you dont respect my short message. Im fully hopeless.. am I stop because that matter? nooooo! haha

the second time I try too meet you..
Em... Finally we meet at mall, you with your friend and I with my bitch! ha
I look you aroound and you felt the spoon! its funny thing..

the time I ask you to be my girlfriend
Its time to make you happy! I ask you to be my gf. and you accet me.. The process isnt easy like I write and pull the keyboard, but i make it simple..
I dunno what happen after that, im still remember but i think i still forget one or two or hundred thing about "us".
You and I makes one billion happines and sadness :(

20th month after Oct, 26th 2011
we still together..
but at least I hope its a gift from God, because with it we were together until the day I wrote it..

I write the trully thing what I cant explain with my word, with my tounge and my mouth. Be here baby, dont leave. Stay here at beside me, hit me when I naughty and disturb the other girl. Make me still love you whatever you use the way. Keep me on deep deep deep your heart, jail me on your mind.. Dont let me go :)
"Love is when you find someone that you can really be yourself with and can share everything with. It's when you cant even imagine what your life would be like without that person. When words dont even come close to how you really feel and even though it doesn't make sense to other people. You know were meant to be together always."



Kamis, 11 April 2013

Just My Way..


Inilah aku, hidup dengan seorang wanita cantik dan juga satu malaikat mungilku yang jelita. Merubahku dari masa kelam yang tak pernah aku bayangkan.. Namaku Rian Santana, istriku Lidia Damayanti dan putri kecilku bernama Rilia Santana. Keluarga kecil yang bahagia..
                                                            ***
Jakarta, selalu ada pergantian manusia ketika malam menjelang dan pagi menyambut. Begitu seterusnya, pecandu kerja berlarian mengejar waktu di pagi hari, anak-anak sekolah mengejar bel sekolahnya dan wanita jalang berjalan tertatih pulang ke peraduannya. Oh jangan dilupakan, para binan pun menyeret langkahnya di pagi hari menuju surganya.
Aku hidup ditengah kota yang amburadul, di kawasan Jakarta menengah-kebawah. Tumbuh dan berkembang di kawasan yang sama, menuntut ilmu umum dan ilmu lainnya disana. Aku belajar banyak. Jangan ditanya bagaimana aku bergaul dan berkembang, jangan ditanya pula bagaimana orangtuaku mendidik anak laki-lakinya ini. Jangankan mendidik, menyapa dan menyentuhku pun tak pernah lagi semenjak aku kelas enam sekolah dasar. Aku sudah terbiasa.
Masa sekolahku tidak menarik, bahkan menurutku itu adalah sebuah mimpi buruk. Mimpi yang tidak pernah aku harapkan, ingin rasanya aku terjaga dan tak akan merasakan lagi yang namanya berkelana di alam mimpi. Semenjak kelas satu sekolah menengah pertama, aku termasuk golongan anak pintar, anak kutu buku dan rajin sekali mengunjungi perpustakaan untuk meminjam buku pelajaran. Ya maklum saja aku bukan anak dari golongan yang berada. Dari kondisi keuanganku, kondisi lingkunganku, aku menjadi anak pendiam dan enggan untuk bergaul.
Pernah suatu ketika temanku, Esa, mengajakku untuk main ke rumahnya. Karena pada dasarnya aku adalah orang yang senang bergaul, aku menuruti saja kemauannya tanpa mempedulikan isu yang bergema tentang Esa. Dia adalah orang yang, em..bisa dikatakan orang yang peduli pada kebersihan badannya. Bedanya dia sedikit agak, melambai, alias ya semacam lekong. Aku tidak peduli..
                                                            ***
 Sesampainya dirumah Esa, dia mempersilahkan aku untuk masuk ke dalam rumahnya. Dia anak orang berada, rumahnya mewah, halamannya luas, mobil tergeletak saja di garasi. Tapi satu kekurangan dari rumah ini, sepi. Ya sepi, hanya ada dua pembantu Esa, satu satpam, dan dua penjaga halaman atau pengurus taman. Orangtuanya sibuk bekerja, dan tidak di Jakarta.
“ Kok bengong, sini dong masuk. Ngapain di depan pintu gitu Ris?”
Dia memanggilku Ris, mungkin susah ya menyebut nama Rian. Aku mengangguk dan berjalan masuk ke ruang tamunya, besar. Itulah kesan pertamaku melihat ruang tamunya.
“ Ke kamar ajalah ya? Nggak asik nih disini, dikamar gue bisa nonton DVD juga kan.”
“ Oh oke, gimana enaknya lo aja deh Sa.” Ucapku santai, tanpa menaruh rasa curiga dan kesan menyinyirkan teman ‘baru’ku ini. Aku mengikutinya menuju kamarnya di lantai dua.
“ Lo tunggu sini, nih gue nyalain DVD Player-nya. Ini tumpukan DVD gue, lo pilih aja yang mana yang mau disetel. Gue mau kebawah minta dibikinin makan siang, lo mau nggak? Gue laper nih.”
Aku tak banyak bicara, aku hanya mengangguk dan kemudian Esa keluar kamar. Rasa ingin tahuku muncul, aku bangkit dari kasurnya dan melihat figura foto yang banyak tertempel di dinding juga di buffet-nya. Esa ternyata tampan, dan aku baru menyadarinya ketika melihat banyak fotonya yang menjadi cover salah satu majalah ternama.
“ Oh dia model.” Gumamku. Esa kembali dengan seorang pembantu permpuan yang membawa nampan berisi dua piring makan siang dan dua gelas minuman. Pembantunya cantik, sepertinya kisaran umurnya sekitar enambelas tahun. Pembantunya langsung bergegas keluar kamar setelah menaruh makanan di meja dekat televisi.
“ Pembantu lo cakep ye Sa?” Ucapku sambil menyikut perutnya.
“ Ah enggak, biasa aja. Nggak napsu gue. Haha. Ayok makan.” Ucapnya tenang seraya mengambil piring makan siangnya lalu melahap makanan yang ada. Sesuap demi sesuap, dan kemudian..
“ Buka mulut lo, nih gue suapin.” Aku kikuk, aneh. Kenapa dia bersikap seperti ini, tapi aku menuruti perintahnya. Aku membuka mulut..
                                                            ***
Semenjak aku datang kerumahnya, hidupku selalu diwarnai dengan Esa dan Esa. Sampai-sampai aku digosipkan pacaran dengannya. Oh tidak, tidak mungkin dia seperti itu. Dia masih normal, suatu saat dia pernah bercerita kalau dia pernah berpacaran dengan seorang wanita, tapi sayangnya putus ditengah jalan.
Aku sudah bilang, masa-masa sekolahku tidaklah seindah sinetron atau skenario film. Tapi argumenku berubah semenjak aku benar-benar mengenal Esa. Dia menjadi sahabatku, sahabat segala suka dan duka, seklaigus sahabat yang menuntunku kedalam dunianya. Dunia malam yang gemerlap, dunia yang tidak seperti lingkunganku. Ini dunia gemerlap menengah-keatas.
“ Lo harus coba ikut sama temen-temen gue Ris, dijamin nggak nyesel. Gue ajak ke Stadium mau kan?”
“ Iya, nanti gue kerumah lo jam delapan malem ya.” Esa mengangguk, dan aku berpikir. Mau pakai baju apa, kan aku orang miskin. Lalu bagaimana? Aku tidak ingin Esa malu ketika memperkenalkan aku sebagai temannya. Dan jam delapan tepat aku melaju kerumahnya. Dan sesampainya dirumah Esa, dia hanya terkagum-kagum melihatku hanya memakai kaos oblong dan celana pendek beserta sendal butut.
“ Yaampun lo nggak akan bisa masuk pake baju beginian, sini gue dandanin!”
Dia memilihkan pakaian yang cocok untukku, dia meminjamkan baju, celana, hodie, dan sepatu merk ternamanya untuk orang rendahan sepertiku. Setelah ada pakaian yang cocok, dia menyuruhku mandi.
“ Sa!! Gue udah selesai mandi, tapi mana anduknya iniiiiii!” Aku berteriak layaknya orang kebakaran jenggot. Esa hening, dan aku panik. Aku membuka tirai kamar mandi, dan ternyata dia ada dibalik tirai!
“ Astaga Esa! Ngapain lo disini? Ngintip gue?!” Sepertinya mukaku merah. Esa menyunggingkan senyum malu dan memberikan handuk yang dia pegang. Aku buru-buru menutup bagian vitalku. Kemudian aku mengenakan pakaian yang dia pilihkan, dan selama perjalanan ke Stadium aku terdiam, tak mengeluarkan sepatah kata. Dan suasana didalam mobilpun senyap.
                                                            ***
“ Hey broooooo!! Kenalin nih temen sekolah gue, namanya Rian.” Spontan gerombolan yang ada di meja itu menoleh kearah kami, dengan pandangan sedikit yaa bisa dibilang kurang bersahabat.
“ Oh, gue kira ini santapan baru lo Sa. Haha.” Tawa membahana dari meja kami, hiruk-pikuk kota Jakarta lenyap dengan dentuman suara musik cadas ini. Sang disc-jockey memutarkan lagu dengan beat yang cepat. Aku diam, berpagutan dengan bibir Esa.
                                                            ***
“Papaaaaa!!!”
“Eh sayang, kenapa? Mama kemana?”
“Ada di dapur, lagi masak Pa. Masak sayur sop loh!! Papa, aku tadi di sekolah gambar ini dong. Ada papa, mama sama aku. Trus ini nih ada Chiko, guguknya aku..”
Ah Rili, cantik seperti mamanya. Aku memeluk anakku. Anak yang paling aku sayangi setelah istriku. Tuhan benar-benar sayang padaku, enatah sudah berapa lama aku meninggalkan Esa. Mantan lelaki yang pernah mengubah jalan hidupku, mengubah orientasi seksualku. Namun Dama membawaku kembali pada hasratku, ya, wanita. 

Sudahkah Anda Dewasa?


Pernah negrasa nggak ada yang bisa mengerti apa yang lo rasain?
Pernah empet karena ga ada yang mau dengerin?

Semua orang pasti bilang pernah, nggak mungkin hidup seorang manusia sempurna tanpa rasa kecewa sedikit pun. Kehidupan udah kejam bos! Jangan di tambah sama masalah yang lo buat, jangan di tambah sama kelakuan pacar lo yang kayak anak kecil, yang manja. JANGAN! Pretty Asmara aja nggak mau badannya segede itu, masa lo mau nyaingin berat badannya dengan segala macam problematika lo sih? Be an adult, dude!

Kedewasaan seseorang sama sekali nggak bergantung sama umur, itu tergantung bagaimana lo menyikapi dan menanggapi semua masalah yang dateng ke lo. Misalnya lo udah tau bakal sakit hati kebablasan kalo nge-gep pacar lo selingkuh atau perhatian lebih ke orang lain, trus lo masih aja mau bertahan. Dengan cara lo mikir "nanti gimana" lo udah bisa di golongkan sebagai orang yang berpikir dewasa. Kalo masih mikir "gimana nanti" udah deh balik ke jaman SMP aja ye? Yang apa-apa masih sama orang tua, mau belanja aja harus sama orang tua, jangan-jangan kalo pup juga di tungguin --"

Jangan terlalu jauh mengartikan arti sebuah kedewasaan, cukup di lingkungan sehari-hari aja. Misalnya kamu punya pacar, kamu punya masalah sama doi tapi kamu malah nggak ngasih kabar atau ngasih tau pasanganmu salah apa sampai jadi sebuah masalah. Kalo kalian sama-sama nggak ada komunikasi buat menyelesaikan masalah itu, ya kalian nggak dewasa. Itu sama aja berenang di air keruh, seger nggak, kotor iya. Nahan gengsi itu lebih gampang dari nahan kentut kok. Sumpah! (kisah nyata). Jadi bagaimana? sudahkah anda mengintropeksi kehidupan dan sikapmu selama ini? Inget yaaa... ketika kamu bertahan dengan gengsi dan segala macam embel-embelnya, ketahuilah bahwa ada seseorang yang merindukanmu dalam kesakitannya menerima sikapmu yang tidak dewasa.



Selasa, 09 April 2013

Melukis Pelangi (re-post)


“Nerraaaaaaaaa!! Gila lo jalan cepet banget!”
Aku menoleh, aku pikir siapa yang memanggilkku dengan nada bicara sekencang itu. Ternyata dia lagi. Ah aku bosan melihatnya, bagaimana tidak bosan? Dia satu kelas denganku, satu meja denganku dan satu komplek perumahan!
“Astaga bisa nggak sih orang ini tidak mengikutiku?” batinku kesal.
“ Lo mau balik ya Ner? Bareng dong?” Ucapnya sedikit memelas seraya mengatur napasnya yang terengah-engah karena mengejarku.
Aku diam, tak menjawab pertanyaannya. Aku kembali berjalan meninggalkan gerbang sekolah, hari sudah cukup sore untuk jam pulang sekolah. Dan aku bersiap untuk mengahadapi kemacetan ibukota Jakarta pada jam lima sore seperti ini.
“ Ih Nerra! lo ga denger gue ngomong? Bareng sih, lo naik busway kan?” Tanyanya sekali lagi, dan kali ini ia menggenggam tanganku. Mungkin dia takut aku akan melakukan hal yang sama, yaitu meninggalkannya lagi. Aku membelalakkan mata, dan air mukanya langsung berubah. Aku tak suka dia mengikutiku kemanapun aku pergi. Memang dia pikir aku ini siapa? Mentang-mentang satu kelas, satu meja dan satu komplek perumahan.
“ Gue naik taksi, pusing. Lo bayar argo taksinya juga kalo mau bareng, bagi dua sama gue. Gimana?” ucapku sedikit ketus.
“ Iya deh, tapi jangan galak begitu dong Ner. Serem tau!” Ucapnya sambil mencubit pipiku.
Ah orang ini, selalu saja membuatku salah tingkah. Apakah dia tak menyadari bahwa aku membencinya karena menyayanginya? Sial! Dia tak sadar.
                                                            ***
Aku termenung didepan meja belajarku, jam berapa ini? Oh tidak! Jam sembilan malam dan aku belum mengerjakan satu tugaspun untuk besok. Aku panik, dengan tergesa-gesa aku membuka sau persatu buku tugasku. Sialnya lagi ottakku tak dapat bekerjasama pada saat ini!
“ Ah sial! Kenapa malah buntu gini si otaknya? Mikirin siapa coba?!”
Tiba-tiba sosoknya muncul di pikiranku, sosok yang menyebalkan itu. Yang duduk satu meja denganku, yang rumahnya bersebelahan denganku. Tapi kenapa harus dia? Bukankah aku telah mnecoba untuk melupakan dan membenci perasaanku terhadapnya?
“ Nerraaaaaaaaa!!!” Aku terkejut, lebih tepatnya ketakutan. Aku mendengar suara orang itu! Ah mungkin aku hanya berhalusinasi, terlalu bnayak memikirkan dia memang membawa pengaruh buruk terhadap otakku.
“ Nerraaaaaaa!!!” Lebih keras lagi, dan aku makin takut. Suaranya terdengar begitu jelas, terlalu dekat. Seperti berada di dalam ruangan ini. Aku memejamkan mata, berharap setelah membuka mataku suara itu menghilang.
“ Nerraaaaa!!!!!” Astaga demi Tuhan aku ketakutan.
“ Ih lo kok ga nengok sih gue panggil? Daritadi gue disini nungguin lo belajar!” Aku kaget bukan main, kenapa? Kenapa orang ini ada di dalam kamar? Siapa yang memperbolehkan dia masuk ke kamarku?
“ Eh kok lo..lo ada disini sih?” ucapku terbata.
“ Hahaha santai aja Ner, berasa liat setan aja sih?” ucapnya disusul dengan tawanya yang lepas.
Huh dasar menyebalkan! Tidak pernah berubah semenjak aku mengenalnya, selalu saja menyebalkan! Aku membencinya.. membencinya karena menyayanginya. Aku menghampirinya yang dengan tidak sopan telah berada di atas kasurku, berbaring dengan nyaman seakan kasur itu adalah miliknya.
“ Eh bangun, ini kan kasur gue! Bangun ah!” Bentakku ketus.
“ Ih Miss Bawel kok galak ya sama Mr. Tampan nya? Nanti Mr. Tampannya pulang loh.”
Aku ternganga, aku terkejut. Kenapa dia bisa berucap seperti itu? Aku hampir saja jatuh pingsan kalau saja dia tidak meledakkan tawanya yang mengisi seluruh isi kamarku. Suara tawanya yang khas membuat berlian di kedua sudut mataku menetes. Aku bahagia mendengarnya tertawa seperti ini.
                                                                        ***
Hari ini adalah hari pertama ujian tengah semester, semua siswa disekolah ini sibuk. Sibuk menyiapkan materi ujian, sibuk mencari jawaban, dan sibuk menyiapkan contekan. Begitulah kebiasaan siswa menjelang ujian yang akan menentukan nilai akhirnya di rapot.
“ Nerra, lo duduk sama siapa?” Ucap Letta, salah satu teman sekelasku.
“ Nggak tau Ta, diatur sama guru nggak sih?” Jawabku sekenanya sambil terus berjalan menuju kelas. Aku bertemu Letta didepan gerbang sekolah, beruntung hari ini aku bisa menghindari Dion, orang yang aku benc karena menaruh rasa padanya.
“ Kayaknya sih iya, palingan lo sebangku sama Dion. Nama lo berdua kan atas bawah di absen.”
“ Lettaaaaaa ! Sini.” Panggil Kika yang tak lain adalah pacar permpuannya, otomatis Letta pergi meninggalkan aku dan membiarkanku berjalan sendiri menuju kelas. Yap, Letta Lesbian dan aku menerima segala kekurangan teman-temanku yang bergaul denganku. Kika berpenampilan layaknya laki-laki, aku sempat mengagumi Kika. Tetapi aku berhenti mengaguminya ketika aku mneyadari bahwa Dion lebih dari Kika. Tunggu dulu, tadi Letta bilang aku akan satu meja dengan Dion?
Aku sampai di ruang kelas IPA-1,  tanpa ba-bi-bu aku masuk ke dalam dan mencari meja yang masih kosong. Tentu saja aku berkonsentrasi dengan nama-nama yang tertempel di meja.
Dianerra Terechia - Dionerelia Abigail
Satu paket nama yang tertempel di meja ujian.
“ Ah? Sial gue satu meja sama Dion lagi! Argh.”
Bukkkkk !
Aku duduk dengan kasar, menimbulkan bunyi yang tak enak didengar telinga. Peduli apa, aku sedang tak memiliki semangat pada awal ujian hari ini. Dion masuk dengan santai, oh baiklah sekali lagi ia menghipnotisku ke alam bawah sadarku. Dia tampan, sangat tampan. Kulitnya putih, matanya seperti kacang almond, rambutnya berbentuk layer entah model rambut macam apa tetapi itu menambah ketampanan dirinya. Bibirnya yang tipis dan…
“ Heh Nerra, pagi-pagi udah bengong aja. Udah siap buat ujian hari ini cantik?” Ucapnya ramah.
Apa? Dia memanggilku dengan sebutan cantik? Oh Tuhan mimpi apa semalam? Cermin mana cermin, aduh aku tak ingin berpenampilan buruk dihadapannya saat ini. Bagaimana rambutku? Ah wajahku pasti memerah seperti udang rebus!
“ Siap dong, kan um pelajarannya hari ini gampang. Hehe.”
Aku malu, sangat malu. Dion hanya tersenyum melihat tingkahku, dan untuk kesekian kalinya, senyumnya membuatku terbang ke langit lapisan ke tujuh.
“ Tampan sekali perempuan ini.” Ucapku setengah berbisik seraya menyunggingkan senyum.

                                                            ***
“ Nerra, lo nggak keberatan kan gue bawa ke taman? Abis ujan juga kan, maaf ya..”
“ Nggak kok, gue malah seneng diajak keluar sama lo Gil.” Ucapku girang.
“ Jangan panggil pake sebutan Gil coba, jelek lah. Dikira lo manggil gue dengan sebutan Gila!” Ucapnya protes. Tapi aku menikmati raut wajahnya yang menunjukkan tidak menyukai sebutan itu. Ah seandainya kau tau Dion, aku ingin memanggilmu dengan sebutan “sayang”.
“ Biarin ah hahaha. Eh lo ngajak gue ke taman mau ngapain?” Tanyaku penasaran.
“ Melukis Pelangi, separti aku melukis perasaanku padamu .”
Aku menatap wajahnya, dan Oh Tuhan dia juga menatapku. Baiklah aku salah tingkah lagi, beruntung saja kami sedang duduk disebuah bangku panjang. Jika tidak, aku akan berpura-pura pingsan agar tak mendengar ucapannya barusan.
“ Nerra, udah setahun lebih kita kenal. Gue tau lo, dan lo tau gue. Gue ngerasa lo sayang sama gue, walaupun awalnya gue nggak percaya lo sayang sama gue. Sampai pas gue dating ke kamar lo, gue nemuin ini. Dibawah bantal lo.” Dion menyerahkan secarik kertas berwarna merah muda, dan mataku rasanya nyaris keluar ketika melihatnya.
“ Eh lo baca semuanya? Ini yang di dalem sini?” Ucapku terbata, Dion mengangguk.
“Dionerelia Abigail, kenapa Cuma kamu satu-satunya cewek yang bisa bikin aku jatuh cinta? Aku udah berulang kali pacaran dan menjalin kasih sama cewek tomboy semacam kamu. Tapi nggak pernah ada perasaan seperti ini. Kayak aku ke kamu. Aku selalu salah tingkah kalo kamu ngikutin aku terus, itu sebabnya aku sering bentak-bentak kamu. Padahal itu salah satu caraku supaya aku ga mati kutu. Terus pas kamu dateng ke kamarku, aku bener-bener ngerasa bahagia saat kamu tertawa lepas. Karena aku tau, semenjak kamu ditinggal sama Mama kamu untuk selamanya, kamu selalu murung. Ditambah ditinggal pacar kamu, itu si Liana. Aku pengen banget gantiin Liana di hati kamu Dion. Aku salah karena aku sayang sama kamu.”
Dion bersimpuh dihadapanku, mengenggam kedua telapak tanganku seraya menatap kedua mataku. Ah sial! Kenapa perempuan ini hobi sekali membuatku salah tingkah?
“ Nerra, would you be mine?”
“ What? AKu ga salah denger?” Ucapku terkejut bercampur haru dan.. entahlah tak bisa dilukiskan. Dion menggeleng, pertanda ia bersunggung-sungguh memintaku menjadi kekasihnya. Menggantikan Liana yang telah lama pergi mengkhianati hatinya dan perasaannya. Bersamaan dengan itu, Dion kembali duduk disampingku dan mengacungkan teluncuknya ke langit. Menggerakan telunjuknya seakan sedang melukis. Tak lama kemudian warna-warna pelangi muncul dengan turunnya telunjuk Dion.
“ Aku akan memanggilmu dengan sebutan bow, yang artinya Rainbow. Pelangi ini menjadi saksi atas bersatunya hati kita sayang. Setiap turun hujan dan muncul pelangi, ingatlah bahwa pada hari itu kita telah menyatukan hati untung saling menjaga.” Ucap Dion dengan mata berkaca-kaca, ia memelukku dengan penuh kasih sayang. Aku meneteskan air mata, air mata kebahagiaan karena Dion menjadi milikku. Seutuhnya.

Minggu, 07 April 2013

Bidadari Terbang (re-post)


     Seperti biasa, pagi ini aku merenung. Sebuah kebiasaan yang tidak pernah bisa aku hilangkan, aku merenung, merenung dan merenung. Sampai suatu ketika aku tesentak dengan apa yang aku renungkan, entah mengapa aku tersentak, namun satu kata terlintas begitu saja "wanita".
Ya, aku tersentak dengan renunganku.. Sedikit demi sedikit aku mengumpulkan kesadaranku yang masih berserakan di alam bawah sadarku. Aku mulai menyadari bahwa aku seorang wanita, aku berjalan gontai menuju kamar mandi. Rasanya aku ingin menenggelamkan semua masa lalu dan kehidupanku di dalam air. Di dalam air yang tenang.. Mengubur hidup-hidup tentang kenangan yang terukir, membasmi semua yang telah terjadi kepadaku. Dan aku hanya ingin mengatakan bahwa aku adalah penyuka sesama jenis. Terlalu banyak orang yang menghinaku, mencaci setiap perbuatanku, namun aku hanya menjadikan semua ocehan itu sebagai angin berlalu.. Alam sadarku menghentak, membangunkan agar aku bergegas membasuh badan. Menyegarkan otak yang sedang kusut bagai benang tak beraturan..
Aku mengguyur badan dengan air yang setengah hangat, menggosok gigi, dan selesai. Aku keluar dari kamar mandi, menuju lemari kemudian aku mencari pakaian dalamku. Terlihat seutas tali, aku tahu apa itu namun ku biarkan begitu saja. Aku tak mau melihat benda itu lagi.. Setelah sarapan, aku pergi menuju kantorku dengan rok mini, blazzer dan tentu saja dengan rambut cepak modis. Disaat aku bekerja, penampilanku terlihat sangat feminim. Diluar pekerjaan kantor, banyak yang tak mengenali aku..
Tidak banyak hal istimewa dalam hidupku, aku seorang pegawai sebuah kantor swasta ternama di Bandung. Aku bekerja sebagai sekertaris, aku memeriksa semua laporan yang akan bertengger di atas meja atasanku. Terkadang aku yang harus menjelaskan seluk beluk permasalahan yang terjadi. Aku mencari list nameku Reysa Indiana, aku ambil mengambil alat itu dan memasukannya kedalam mesin presensi.
Teeeeeet..
Aku telat 2 menit..
Waktu berjalan bagai siput, aku menunggu jam makan siangku. Pekerjaanku hari ini cukup ringan, tidak ada client yang datang dan protes terhadap kinerja perusahaan ini.
 Hidupku penuh dengan liku-liku, entah bagaimana aku bisa bertahan sampai saat ini. Ah Tuhan, aku rindu dia.. Dia yang memberikan aku semangat sampai saat ini.. Dia yang menghiasi hidupku.. Sedang apakah dia Tuhan? Bolehkah aku berbicara dan sedikit mengukir kenangan lagi bersamanya ? Bagaimana wajahnya sekarang, pertama aku bertemu dengannya, dia cantik, putih bersih bagai bidadari.. Aku rindu padanya.. Rindu setengah hidupku..
Aku tersadar akan lamunanku, entah berapa lama aku melamun. Beruntung atasanku tidak menyadari bahwa sejak tadi aku hanya merenung di depan komputer yang memandangku tajam. Dan akhirnya, jam makan siang pun tiba..
Selesai makan siang, aku kembali ke kantor. Berkutat dengan berbagai macam tumpukkan kertas, meneliti setiap laporan yang telah di ketik rapi. Terkadang aku muak dengan semua ini, berpura-pura bagai kupu-kupu yang akan bermetafora menjadi ulat, kemudian kepompong dan berubah lagi menjadi kupu-kupu. Sungguh menyedihkan.. Tidak pernah memiliki kehidupan yang baru, kupu-kupu itu hanya berubah bentuk ! Aku ingin menjadi angin, yang setiap saat bisa berhembus kemanapun yang ia mau..
Kriiiinggggg..
Nyaring.
Reysa memutar bola matanya, mengambil napas dan menghembuskannya kembali. Ia bergegas mengangkat telepon itu.
" Hallo selamat siang, ada yang bisa saya bantu? " Suara yang agak berat menggema di ruangan ini, dan itu adalah suara Reysa. Hampir 5 menit ia menenggerkan gagang telepon itu di telinganya, ternyata istri atasannya yang menelpon dan menitipkan pesan kepadanya. Kebetulan atasannya sedang meeting dengan relasi kerjanya.
“ Oh baik bu, nanti akan saya sampaikan. Selamat Siang.” Ucapnya penuh hormat. Percakapan di akhiri, ia meletakkan gagang telepon kembali kepada tempatnnya, ia menggeleng, dan kemudian bersandar di kursinya.
Jam pulang kantor  tiba, ia terburu-buru memasukkan segala barangnya ke dalam tas mungilnya  menyambar kunci mobil dan laptopnya. Bagaikan telah terburu waktu, ia pergi ke kamar mandi. Mengganti pakaian kantornya dengan celana jeans panjang, kaos gombrong, dan ia mencuci bersih rambutnya. Mengeringkannya dan berdandan layaknya laki-laki.
Ia mencari ponselnya, mengeluarkan seluruh isi tasnya. Ah ia sangat benci keadaan seperti ini, disaat ia terburu-buru dan terhimpit waktu. Ia menekan tombol di ponselnya..
" Hallo, kamu dimana sayang ? Tunggu aku ya, 15 menit aku sampai sana sayang. Bye, love you darling ". Telepon di tutup, Reysa berlari keluar kantor, melemparkan pakaian kantor ke jok belakang mobil. Menancap gas dan melaju menuju rumah kekasihnya..
                                                                                ***
Sudah lewat dari 15 menit, Indri, menunggu di teras halaman rumahnya. Menunggu seseorang yang tak lain adalah Reysa. Tepat saat ia akan masuk ke dalam rumah, klakson mobil terdengar nyaring.
Tiiiinnnn..
Reysa keluar dari mobilnya dengan napas terengah-engah, ia mengatur napas, masuk ke halaman rumah Indri, mengampiri Indri yang sejak tadi memandanginya dengan pandangan kesal.
" Maaf sayang aku terlambat, tadi ada meeting di kantor ". Ucap Reysa penuh kejujuran.
" Bukankah memang seperti itu dan selalu begitu ?" Jawab Indri singkat, ada nada kesal dalam ucapannya. Reysa yang merasa tidak dihargai, hanya bisa menahan amarahnya didepan gadis cantik ini. Dihadapan malaikat yang memenjarakan hatinya, yang membuat ia menuruti semua permintaan malaikatnya ini. Indri adalah gadis yang baru saja memasuki kuliah semester 3 di salah satu perguruan tinggi swasta, tentu saja Reysa memahami betul kondisi psikologis remaja di ambang ini.
" Aduh kok ngambek sih sayang, cantiknya ilang deh.. Senyum dong sayang, ini aku bawain ice cream buat kamu sayang.." Ucap Reysa menggoda sang malaikatnya.
Reysa mengecup kening Indri penuh dengan kasih sayang, dan kini, malaikatnya telah tersenyum kembali.. Mereka bergegas pergi, menuju sebuah mall. Rencana mereka malam itu adalah candle light dinner namun karena Reysa datang terlambat, terpaksa rencana itu ditunda. Mereka telah sampai, kemudian mereka memarkir mobil di dekat pintu yang menghubungkan koridor parkir dengan pintu masuk ke dalam mall itu.
" Sayang aku mau sushi, ayo kita ke resto Jepang. Pinta indri dengan nada manja.
Reysa hanya mengangguk dengan menghiasi senyuman di bibirnya, dan untuk ke sekian kalinya, Reysa terlihat lebih maskulin di bandingkan dengan pria yang mereka temui di jalan sepanjang mall ini. Setelah makan malam, ia membeli 2 buah tiket untuk menonton film.
" Mbak dua tiket untuk film ini". Ucap Reysa.
" Maaf  kak, tiketnya telah habis. Dan ini adalah jam tayang terakhir".
" Oh kalo gitu makasih mbak. Nada kecewa jelas tergambar dari ucapannya.
" Sama-sama kak.”
Wanita berumur 22 tahun itu berjalan menuju malaikatnya, dengan air muka yang menunjukkan bahwa ia kecewa. Disana, malaikat hatinya menunggu. Duduk manis di sofa yang tersedia. Kali ini, dan untuk ke sekian kalinya Reysa kagum dengan kecantikkan Indri. Gadis itu berambut panjang sepunggung, berkulit sawo matang, alisnya yang tebal, bulu matanya yang lentik, hidungnya yang mancung dan aaah.. bibirnya sexy sekali.. Malam ini Indri memakai hot pants dengan kaos kuning bertuliskan I Love my darl.
" Tiketnya mana bunny ? " Tanya Indri penasaran.
" Habis sayang, kita nontonnya besok aja. Gimana? Masih mau nonton film itu kan ?"
" Gausah deh sayang, udah ga pengen lagi". Nada bicara Indri mulai memperlihatkan tingkat kekecewaannya. Indri mencoba agar dia tak terlihat kesal di hadapan Reysa, wanita yang ia sayangi layaknya seorang pria. Sebenarnya Indri bukanlah seorang lesbian, ia baru pertama kali menjalin status "berpacaran" dengan seorang wanita.
 Aku mengenal Reysa 2 tahun yang lalu, saat masih berada di bangku kelas dua sekolah menengah atas. Reysa adalah kakak kelasnya, ia adalah seorang atlet basket. Aku tak menyangka, wanita yang aku kagumi, yang menjadi sahabatku dulu, yang aku anggap sebagai kakak, sekarang menjadi pelindung hatiku. Menjadi penerang hatiku, ia baik. Sangat baik, aku men... menyayanginya.. aku belum bisa mencintainya.. Karena aku bukanlah seorang lesbian.. Tapi.. entahlah, hanya saja aku merasakan kenyamanan luar biasa ketika bersama dengannya.
" Oke darl, go home hunny ?" Tanya Reysa penuh semangat,
" No, i wanna go. Im bored ".
" Where? " Rasa penasaran terselip saat Reysa berbicara.
" Gatau ". Jawab Indri ketus.
Mereka berjalan ke parkiran, memasuki mobil dan meninggalkan area parkir mall itu. Di dalam mobil, Reysa memainkan mp3-nya. Memperbesar volume dan lirik yang terdengar menunjukkan bahwa ia sedang memikirkan seseorang.. Seseorang dari masa lalunya..
  ** Nevermind i'll find someone like you.. I wish nothing but the best for you too.. Don't forget me, I begged.. I'll remember, you said.. Sometimes it lasts in love, but sometimes it hurts instead..
Indri tercengang, bukan, bukan ia ingin marah kepada si penjaga hatinya ini. Namun terlintas di dalam bayangannya, bayangan ketika ia masih berada di kelas dua sekolah menengah atas.. Saat ia belum terlalu dekat dengan Reysa, disaat dia masih menjalin kasih dengan pria..
 Aku akan selalu menyayangi kamu Indri, jadilah malaikat didalam hatiku.. Aku terlalu lama mengenalmu, merasa nyaman denganmu, apakah kamu tidak merasakan hal itu ? Jawab pertanyaanku ini saat pengumuman kelulusan besok.. Karena setelah itu kamu tidak akan bisa bertemu denganku.. Aku akan pergi dari kota ini..
Indri tersadar dari lamunannya, ia teringat kembali semua ucapan Reysa. Semakin sadar saat penjaga hatinya  memperhatikan gerak geriknya.
" Siapa yang kamu pikirkan ? Masa lalumu ?" Tanya Reysa dengan datar.
" Ah no, i just.." Ucapan Indri terbata-bata saat Reysa bertanya apa yang ia pikirkan.
" Semua orang punya masa lalu sayang, masa lalu kita jadikan cerminan diri kita hari ini.. Aku tau kamu sedang memikirkan pria yang pernah menjadi bagian hidupmu".
" Maaf sayang, tapi lagu itu membuat aku mengenang semuanya.."
" Nevermind hunny".
Reysa kembali menikmati kebersamaan mereka, hampir mustahil mereka menghabiskan waktu seperti ini. Reysa terlalu sibuk dengan pekerjaannya di kantor. Indri sangat bersyukur memiliki pasangan seperti Reysa, mengerti dengan apa yang ia alami. Mobilnya telah sampai di sebuah lembah di ujung kota, mereka berhenti disana sambil menikmati suasana malam Bandung.
" Hunny, are you serious with me ? I mean, you love me ? " Tanya Reysa serius,
" Kamu ngomong apaan sih sayang, tentu saja aku men.. menyayangimu sayang". Jawab Indri dengan ragu.
 Maafkan aku yang saat ini telah membohongimu.. Aku memang menyayangimu, tetapi, aku belum siap.. walaupun sudah hampir 2 tahun aku menjalin kasih bersamamu..
Indri memeluk Reysa, memeluknya penuh dengan rasa sayang.. Memeluknya dengan perasaan setulus hatinya. Ia tak akan pernah sanggup melepaskan wanita ini, wanita yang dua tahun telah mengisi hari-harinya. Reysa terkejut karena tiba-tiba dadanya hangat oleh linangan air mata malaikatnya.
Aku mencintaimu Indri, lebih dari aku mencintai kekasih sebelum kamu.. Risa.. Dia adalah wanita yang paling aku cintai, sebelum aku menemukanmu.. Sebelum aku memantapkan hatiku untukmu.. Sebelum aku mengerti kamu, sebelum aku memahami kamu, sebelum aku... Aku melupakan semua kenangan bersama Risa.. yang seharusnya masih aku kenang sampai saat ini..
" Hapus air matamu sayang, aku tetap disini. Aku akan menjagamu, seperti yang aku katakan saat aku meminta jawabanmu atas pertanyaanku". Ucap Reysa dengan tulus. Indri melepas pelukannya, air matanya telah kering.. Disapu oleh tangan halus si penjaga  hatinya. Reysa mengecup kening dan bibirnya, membuat Indri semakin merasa nyaman dan tenang. Malam telah larut, bintang pun makin menghiasi malam itu. Malam yang kelabu bagi para penghuni alam lainnya.
                                                                                                ***
Risa adalah wanita tercantik yang pernah aku temui, wanita yang sangat aku sayangi, wanita yang aku sebut sebagai bidadari hatiku. Dia pergi, menjauh, terbang, melayang, untuk selamanya. Takkan pernah kembali, jauh dia melayang. Dia telah pergi, menghampiri pemiliknya. Menitipkan salam lewat hembusan angin.
Sabtu malam, jalan begitu ramai. Jakarta malam itu ramai, bagai semut yang berkumpul di sarangnya. Berkumpul mencari makanan manis, membagi sama rata namun memperbanyak jatah untuk sang ratu.
" Kamu dimana sayang ?" Tanya Reysa dengan nada yang sangat halus,
" Aku dijalan baru pulang kantor sayang, kamu langsung ke kost aku aja."
" Ok, see you later hunny."
Telepon di tutup, bagi Reysa, suara Risa adalah suara terindah yang pernah ia dengar. Ia mencintai Risa lebih dari ia mencintai dirinya sendiri. Beberapa menit kemudian, ponselnya kembali berdering. Nomor baru, dengan nomor awal 021, Reysa menerima panggilan dari nomor itu.
“ Hallo ?”
" Hallo kak, ini pacarnya mbak Risa ya ?"
" Iya ini siapa ya?" Terselip nada gusar dari perkataan Reysa.
" Ini pihak rumah sakit, saya memberitahukan kalau mbak Risa barusan kecelakaan."
" Hah? Baik saya akan kesana." Reysa terkejut, sama sekali tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. Reysa melangkah dengan langkah lebar, melesat bagai kilat. Seakan tak percaya bahwa kekasihnya baru saja mengalami kecelakaan. Reysa tiba dirumah sakit, sepuluh menit kemudian, dan ia langsung menuju ruangan yang bertuliskan UGD. Ia memaksa masuk, ia ingin segera melihat keadaan kekasih tercintanya.
" Sayang, bagaimana keadaanmu? Kenapa bisa begini sayang." Suaranya kian berat ketika melihat banyak perban di kepala kekasihnnya itu.
Air mata mengalir deras di pipinya, saat itu ia benar-benar menunjukkan betapa lemahnya seorang Reysa, menunjukkan betapa ia butuh bidadarinya ini. Belum ada reaksi apapun dari Risa, ia masih hening, masih diam, masih berbalut perban di kepalanya, masih tersuntik jarum infus. Ruangan ini penuh sesak dengan berbagai bau obat. Bau khas rumah sakit.
" Reysa.. Rey.." Suara lirih Risa memecah keheningan.
" Iya sayang, aku disini. Kamu sadar sayang ? Oh Tuhan terimakasih." Ucap Reysa bahagia. Namun seketika itu juga, suaranya menjadi parau. Hatinya pilu, sangat pilu.
" Sayang, aku sakit. Aku ga kuat. Aku mau bilang sesuatu ke kamu. Kamu harus jaga omongan aku ini dan melaksanakannya." Susah payah Risa mengeluarkan satu baris kalimat.
" Iya sayang, aku akan mendengarkan dan melaksanakannya jika aku mampu." Ucap Reysa penuh kesungguhan.
" Aku punya sahabat, dia Indri. Dia menyukaimu sayang. Dia menyayangimu, aku memang mencintai dan menyayangimu. Tapi waktuku sebentar lagi, aku sakit, aku takkan kuat sayang. Jaga dia, jadilah kekasihnya. Jadikan ia penggantiku, jadikan ia sebagai ratu yang bersemayam di hatimu sayang. Aku mencintaimu, sampai napas terakhirku ini."
" Kamu ngomong apa sayang ? Kamu ga akan..."
Tuuuuuuuttt......
Mesin detak jantung berbunyi, menandakan telah hilangnya satu nyawa yang berada diatas ranjang itu. Reysa berlari keluar, menarik paksa daun pintu yang tertutup rapat, memanggil dokter dan suster yang berjaga diluar ruangan. Dokter bekerja dengan susah payah, mencoba memastikan keadaan wanita itu. Reysa menunggu diluar dengan cemas, panik. Entah apa yang harus ia lakukan jika –seandainya— Risa tidak dapat di selamatkan.
Beberapa menit berlalu dengan kesunyian, ketegangan, hening. Ah tunggu, bukan beberapa menit, tetapi hampir satu jam ! Satu jam Reysa menunggu dengan gelisah, dengan ketegangan yang ada di sekujur tubuhnya. Kemudian sesosok pria muncul dari ambang pintu, ia menggunakan jas putih dan mengalungkan stetoskop di lehernya. Ia menepuk bahu Reysa. Reysa menoleh dan melihat bagaimana air muka dari sang dokter.
" Maaf dik, kamu harus terima. Dia tidak bisa di selamatkan." Suara dokter memecah lamunan Reysa. Seakan tak percaya dengan apa yang diucapkan sang dokter, hampir saja Reysa berteriak disana.
" Nggak dokter, nggak mungkin !" jelas terlihat kegusaran hatinya, apa yang ia pikirkan ternyata terjadi.
" Sabar dik, ini kenyataan. Permisi saya masih ada pasien lagi." Dokter itu menghilang di ujung lorong yang berkelok.
Reysa kembali masuk ke dalam ruang itu, sudah tidak ditemukan lagi, tidak  ada siapapun disana, hanya ranjang putih yang kosong. Ranjang itu memanggil, seakan menariknya untuk menghampiri ranjang itu. Terdapat secarik kertas, ia mengambilnya, membuka lipatan kertas itu dengan hati-hati.
 **Aku sayang kamu Reysa, kau adalah wanita yang paling aku cintai selain ibuku. Kau yang membuat aku bertahan dengan penyakitku, kau yang memberi cahaya dalam hidupku. Kini hidupku berakhir, lakukanlah apa yang aku pesankan kepadamu. Sayangi dia, tumbuhkan benih cintamu untuknya. Aku akan bahagia disana, aku akan tetap mengamatimu dari atas sana. Ini akhir hidupku, ini berakhir untukku, namun tidak untukmu. Berjanjilah kau akan selalu menyayangi aku, berjanjilah kau akan mencoba menyayanginya, menyayangi Indri, sahabat yang aku anggap sebagai keluargaku. Berjanjilah kau akan tetap hidup unutk mengenang semua kenangan tentang kita, tentang apa yang kau ukir dihatiku. Salam sayangku padamu, Risa..
Bagai air bah yang tak terbendung, ia terjatuh, temenung di lantai ruangan itu. Lantai yang dingin, dingin bagai salju, seperti hatinya saat ini. Dia tak menyangka semuanya telah terjadi. Dia tidak mempercayai semua ini. Ini hanya mimpi. Dan ia akan terbangun, sebentar lagi.
                                                                                ***
" Ayo kita pulang hunny sayang, sudah malam." Reysa mengamit lengan Indri.
Indri masuk kedalam mobil, Reysa pun menancap gas dan mereka pulang. Reysa mengantarkan malaikatnya menuju perlindungannya, rumahnya, rumah yang akan menjaga dia, menjaga dari segala bahaya yang mengancam.

Tetaplah jadi malaikatku, gantikan bidadariku yang telah terbang. Dia telah kembali, kembai ke surga. Kini ia mengutusmu untuk menjadi malaikat didalam hatiku. Aku mencintaimu Indri.. dan aku berharap, kau bukan malaikat yang selanjutnya akan terbang..

                                                                                ***
Waktu berlalu sangat cepat, Indri telah lulus dari studinya. Kini ia bergelar S1, terdapat gelar di belakang namanya. Entah sudah berapa lama ia mendambakan saat ini, berpkaian hitam dan memakai toga khas mahasiswa yang menjalankan wisuda kelulusan. Senyum merekah tergambar dari wajah oriental itu. Menambah efek cantik terhadap wajahnya.
“ Mama, papa.. Aku lulus, aku udah wisuda.” Ucapnya dalam hati.
Ia sangat merindukan kedua orangtuanya, kedua belaian kasih sayangnya. Indri adalah korban dari keluarga broken home. Saat ini, ibunya berada di Korea. Ibunya ikut pindah bersama suami barunya. Sedangkan ayahnya, entah kemana. Ia tak pernah tahu tentang kabar ayahnya. Selama berkuliah, ia hanya tinggal sendiri. Di sebuah rumah kost yang sederhana, yang membuat hatinya nyaman. Yang banyak mengukir kenangan, kenangannya bersama seorang wanita. Wanita yang seharusnya tak pernah ia cintai, wanita yang harusnya menjadi kakaknya.
 Aku merindukanmu Reysa, sangat merindukanmu. Bagaimana keadaanmu saat ini? Bolehkah aku menghampirimu? Aku sangat merindukanmu Reysa.. Aku benar-benar ingin bertemu denganmu, memelukmu seperti saat kita masih bersama. Masih menghabiskan waktu bersama. Aku ingin bertengkar denganmu, aku ingin merasakan pelukanmu lagi. Tuhan, bagaimana keadaannya saat ini?
Air matanya menetes, menetes satu persatu. Membasahi pipinya yang halus. Ia berjalan gontai menuju sebuah bangku panjang, berada di ujung taman kampusnya. Bangku itu berwarna putih, warna yang ia sukai. Warna yang melambangkan kesucian. Indri duduk diujung bangku, mengamati teman-temannya yang sedang berbahagia bersama orang yang mereka sayangi. Terkadang Indri tersenyum dengan apa yang ia lihat. Sedetik kemudian, ia kembali memutar kenangannya. Tiga tahun yang lalu sebelum ia kehilangan penjaga hatinya..
                                                                                                ***
“ Hunny !” Sapa Reysa
“ Astaga Tuhan, kau membuat aku jantungan !” Cibir Indri dengan nada kesal.
“ Hahaha kamu lucu kalo lagi manyun.”
Hening, dan kemudian, ledakkan tawa tak terelakkan lagi. Mereka berdua tenggelam dalam suasana bahagia. Mereka saling peluk di sebuah taman bunga, taman yang memberikan kesejukkan di dalam hati. Taman ini tidak ramai dan tidak sepi, namun cukup untuk mengobati penat sehabis berkuliah atau bekerja. Ini adalah suasana sore terbaik yang mereka dapatkan.
“ Sayang, aku mau bilang sesuatu.” Nada bicara Reysa agak kaku, sehingga membuat Indri heran. Ia merasakan ada yang aneh dengan kekasihnya ini.
“ Mau bilang apa sayang ?” Tanya Indri halus. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Reysa, ia menutup mulutnya rapat-rapat. Seakan-akan ada sesuatu yang sangatlah penting.
“ Tidak, aku hanya ingin mengatakan bahwa aku sangat mencintaimmu.” Kecupan lembut mendarat di pipinya, di pipi kekasihnya. Wanita yang sangat ia cintai, saat ini..
Indri hanya tersenyum, menampilkan giginya yang rapi dengan bracket behel yang menempel di giginya. Ia membalas kecupan di pipinya, ia balik mengecup pipi kekasihnya. Mereka berpelukkan, seakan-akan ingin mengatakan pada dunia bahwa mereka tak dapat dipisahkan. Sekalipun maut telah ada didepan mereka.
“ Hunny, I’am hungry. Let’s find some food.” Pinta Reysa.
“ C’mon.” jawab Indri singkat.
Mereka beranjak dari taman, mencari kafe terdekat yang ada di taman itu. Lalu mereka memilih kafe yang menjajakkan berbagai macam sushi, mereka berdua adalah penggemar makanan khas Jepang. Mereka memilih meja di ujung kafe ini, Karena kafe ini terletak di sebuah pinggir jalan. Setelah membaca menu, mereka kembali berbincang. Terlihat jelas di wajah Reysa kebahagiaan yang menyelimuti hatinya. Begitupun Indri, ia benar-benar mencintai Reysa setelah sekian lama ia meragukan hubungannya dengan wanita ini.
“ Hunny, wait a moment. Aku mau ke toilet, jangan menghilang ya.” Goda Reysa.
“ Kamu tuh apaan sih sayang. Haha”
Reysa beranjak dari  mejanya, Indri kembali terkesima dengan aura yang ditunjukkan dari tubuh kekasihnya. Ia mengamati Reysa yang saat ini menggunakan celana jeans pendek, kaos oblong, kemeja berwarna hitam, dan sepatu sneakers putih.
“ Tampan.” Gumam Reysa. Tiba-tiba ia mengingat ucapan Risa, sahabatnya yang telah lama meninggalkan dunia ini. Meninggalkan kekasihnya yang kini menjadi kekasihnya. Ada rasa bersalah dalam lamunan Indri kali ini, dan untuk kesekian kalinya ia merasakan tak pantas mendapatkan Reysa.
“Kalau kau menyukainya, aku akan berikan dia untukmu Indri. Aku takkan lama berada di dunia ini. Dan aku tahu kau sangat menyukainya. Gantikan aku ketika aku tak lagi menghirup udara segar, aku yakin dia juga akan menyayangimu sama seperti ia menyayangiku saat ini. Yang akan aku pinta dari kalian berdua hanyalah sebatas mengingatku. Jangan melupakanku. Ingat itu ya Indri ! hahaha”.
“ Itu yang kau ucapkan, aku akan selalu mengingatmu Risa. Kau sahabat terbaikku. Aku akan menjaga kekasihmu.” Lirih, Indri tak sadar telah mengucapkan kalimat itu. Dan ternyata Reysa telah berada dihadpannya. Memperhatikan apa yang Indri ucapkan.
“ Hey sejak kapan kau ada dihapanku?” Tanya Indri heran.
“ Lima menit yang lalu.”
Reysa tertawa melihat keterkejutan kekasihnya ini. Sushi yang mereka pesan telah terhidang, tanpa basa-basi lagi mereka melahap makanan yang ada di mejanya. Setelah selesai menyantap makanannya, mereka bergegas pulang. Karena matahari telah tidur, digantikan dengan bulan yang baru saja bangun dari tidurnya yang lelap. Sepanjang perjalanan pulang hanya alunan lagu yang terdengar, rupanya Indri tertidur.
 “ Mungkin kecapekan.” Ucap Reysa seraya membelai rambut kekasihnya.
Mereka sampai, dan Indri terjaga dari tidurnya.
“ Eh udah didepan kost ya? Aduh maaf sayang aku ketiduran, yaudah sekarang kamu langsung pulang ya. Mandi dan istirahat. Hati-hati dijalan yah sayangku.” Indri mengecup bibir Reysa.
Reysa hanya tersenyum, kemudian Indri keluar dari mobilnya. Melambaikan tangan untuk melepas kepergian kekasihnya. Ia tetap berada diluar kost sampai mobil yang dikendarai Reysa menghilang di ujung jalan. Baru saja ia berjalan dua langkah, terdengar suara benturan yang amat keras.
Braaaaaaaakkkk !!
Indri kaget, ia berlari ke ujung jalan. Napasnya terengah-engah, dan hampir berhenti bernapas ketika ia sampai di ujung jalan. Disana ia melihat mobil yang dikendarai Reysa. Ia berlari membabi buta kearah kerumunan orang-orang yang berkumpul disekitar mobil Reysa.
Tangisnya pecah ketika ia mendapati Reysa berada di troroar jalan, dengan keadaan tubuh yang sangat mengenaskan. Ia menangis sekuat tenanganya. Ia mengahmpiri Reysa, ia memegang tangan Reysa. Memastikan nadinya masih berdetak, dan ternyata memang masih berdetak.
“ Kenapa gini sayang? Aku udah bilang hati-hati !” Antara sedih, marah dan perasaan lain bercampur.
“ Dan kenapa kalian diam? Panggilkan ambulance ! cepat ! Apa tak ada jalan lain selain membawanya menggunakan ambulance ?” Indri berteriak kepada orang-orang yang berkerumun.
“ Sudah mbak, kami sudah menelpon dan mereka sedang menuju kesini.” Jawab salah satu warga yang berada disana.
Indri benar-benar merasa hancur, seluruh tulangnya seperti lumpuh. Ia tak mampu berdiri, ia hanya bisa menangis dan menunggu ambulance datang. Beberapa menit kemudian ambulance datang, tubuh Reysa yang berlumur darah di naikkan ke atas ranjang dan dimasukkan ke dalam ambulance itu. Indri ikut masuk, ia ingin memastikan keadaan kekasih tercintanya ini. Selama perjalanan menuju rumah sakit, Indri berdoa pada Tuhan agar Reysa bisa selamat. Ia tetap memastikan denyut nadi Reysa. Tiba-tiba Reysa membuka sedikit kelopak matanya, mencoba berbicara sepatah kata pada Indri.
“ Kalau aku pergi, tolong sampaikan pada keluargaku bahwa aku ingin di makamkan di sebelah makam Risa. Sampaikan itu, dan yang harus kau tahu. Aku sangat mencintaimu Indri. Jaga dirimu kalau aku pergi jauh, aku menyayangimu..”
Belum sempat Indri menjawab semua perkataan Reysa, dia terlambat. Reysa mengejang, matanya tertutup. Dan.. Reysa meninggal dunia.. Dia benar-benar pergi, dan saat ini Indri telah kehilangan semua orang yang benar-benar ia sayangi. Indri menjerit histeris, dia tak kuasa menahan kesedihannya yang sangat dalam ini. Dia benar-benar tak sanggup lagi..
                                                                                ***
“ Hey Indri, ayo kita pulang. Ngapain ngelamun disini?” ucap Aldo, Aldo adalah pasangan Indri saat ini. Ia adalah pria yang bisa membuatnya semangat dan bangkit dari keterpurukkannya, dan Aldo menerima Indri dengan segala masa lalunya.
“ Ah tidak, aku hanya ingin duduk disini sayang. Ayo kita pulang.” Indri bangkit dari bangku, mengamit lengan Aldo. Dan mereka pergi dari lingkungan kampus.
Aku sangat menyayangimu Reysa, aku belum bisa melupakanmu dan mungkin takkan pernah. Saat ini aku dilindungi oleh pria ini, pria yang nantinya akan menyuntingku. Aku harap kau bahagia dengan keadaanku sekarang, sampaikan salamku pada Risa. Aku yakin kalian telah bertemu di surga.. dan ternyata cinta kalian memang sehidup semati, walaupun aku tahu kau juga menyayangi aku seperti kau menyayangi Risa..
                                                                                SELESAI