Pages

Subscribe:

Minggu, 21 Juni 2015

Rindu

Rumah...
Mama, bapak...
Kerinduan...
Rindu ini menusuk bagaikan belati yang terasah tajam. Hati ini hanya bisa meringkuk, memeluk luka yang tertancap tajamnya kerinduan.
Sudah berapa lama wajah ini tak menatap kehangatan? Bagaimana bisa, aku menahan rindu ini sedemikian kuat. Benteng yang aku bangun dengan kekuatan gengsi perlahan memudar. Suara itu, ya, beliau membuat pertahananku hancur tak bersisa.
Aku tak bisa membayangkan bagaimana rindumu terhadap keluargamu, sayang.
Aku hanya manusia egois yang merasakan kerinduan hangat atmosfer rumah. Tempat dimana aku tumbuh besar dan mengenal hal-hal menggelikan.
Disana, direngkuhan hangat kedua manusia yang menciptakanku aku belajar banyak sampai akhirnya aku memilihmu untuk menemani waktuku.
Ya, aku merampasmu dari kehangatan yang bertahun-tahun menaungi dirimu. Lalu, bagaimana aku bisa mengembalikan kehangatan yang aku rampas darimu? Aku, aku, aku tidaklah cukup dari seluruh kehangatan yang diberikan malaikat tanpa sayapmu. Aku hanya iblis yang membuat kau menderita sedemikian lama.
Seandainya aku bisa menemukan cara mengembalikan kehangatan itu, pastilah sudah ku lakukan demi yang terbaik untukmu sayang.
Ketahuilah, merindukan kehangatan yang pernah kau rasakan adalah begitu sakit dan pilu. Seperti semburat nadi terluka yang diteteskan air asam. Pedih, perih, pilu, sakit.
Aku merindukan rumah..
Aku merindukan mereka yang setiap sore selalu ada dirumah dan membagi cerita apapun itu, mendengarkan apapun yang aku ceritakan tanpa lelah..
Aku, aku, manusia yang belum bisa memberikan apapun selain dosa yang makin menggunung dan meminta materil ini itu. Maafkan aku, maafkan anakmu yang masih mengecewakan hingga detik ini.
Dan untukmu sayang, bantu aku mencari cara mengembalikan kehangatan yang sudah pasti kau rindukan itu.
Setiap pembicaraan yang terdapat pembahasan keluarga, hati ini selalu sakit. Membayangkan bagaimana keadaanmu dengan keluargamu yang aku hancurkan. Bantu aku memperbaiki hubunganmu dengan keluarga yang kau cintai itu sayang.
Aku selalu merasakan kerinduan berjumpa dengan mereka yang berbeda kota denganku.
Apa kau tidak merindukan mereka? Apa kau lebih memilih aku dari pada membuat malaikat tanpa sayap mu terseyum?
Tolong aku sayang..
Ku katakan sekali lagi, kerinduan akan hangatnya suasana keluarga adalah sakit dan pedih. Maka perbaikilah segalanya sebelum terlambat. Mari, bantu aku...

Selasa, 23 Desember 2014

Thanks to God

Alhamdulillah masih hidup, masih dikasih napas sama yang Maha Satu. Bersyukur banget, walupun dalam keadaan sulit, dalam keadaan yang menurut gue harusnya gue mati, tapi masih ada kata-kata bijak dari dalam hati *walaupun tiap ada kata bijak yang keluar dari hati gue selalu geli sendiri*. but y'all know, God loves Us.

Hampir berganti tahun, progress di tahun ini nggak ada kemajuan apapun. nggak ada yang gue hasilkan selain tetep sama my baby. harus bikin list buat tahun depan, harus bisa merealisasikan yang jadi obesesi gue! harus bisa ngangkat derajat orang tua! biar nggak di remehin sama orang-orang yang nggak inget kalo dulu kulitnya coklat!

Sebenernya blog gue ini nggak ada identitasnya ya, nggak ada genrenya. kalo lagi galau ya galau, lagi marah ya marah, lagi full of happines ya nulisnya begini he he he. gue percaya, semua masalah yang dikasih Tuhan ke gue pasti ada hikmahnya. pasti ada something what i take. Walaupun gue termasuk manusia yang paling hina di mata Tuhan, gue yakin kok Tuhan punya satu poin paling penting dari gue yang cuma Tuhan yang tau. gue percaya, nggak ada manusia yang nggak di ampuni dosanya sama Tuhan.

Karier gue, pekerjaan gue, jodoh gue, seua udah ada yang ngatur. masalah jodoh, yang ngasih jodoh memang Tuhan tapi gue percaya yang bikin seseorang jadi jodoh kita adalah diri kita sendiri yang merasa dia cocok atau nggak.

Tuhan selalu ada di dalam hati kita, Tuhan itu ada kalau kita percaya. I've a lot of mistakes but God never walk away from me, since i know God always on my heart i always make sure if i didn't make a trouble.

Jumat, 01 Agustus 2014

August, 02, 2014


Ketika sebuah ketulusan dipertanyakan, apa yang bisa kamu buktikan? Hanya waktu yang membuktikan. Di dunia ini ada beberapa hal yang di anggap tulus karena tidak mau melihat kenyataan dan tulus yang memang tulus.
Ketika ketulusanmu dibalas dengan sebuah sangkaan negatif, haruskah kamu diam dan tidak merasa tersakiti? Sampai saat ini aku tidak mengerti apa itu sebuah ketulusan, apakah ketulusan adalah perbuatan yang nantinya (berharap) seseorang akan membalas perbuatan kita? Atau itu murni “sudahlah, apapun untuknya. Aku mencintai dan menyayangi dia.”
Berikan aku contoh ketulusan yang nyata, bukan hanya dari “apa yang aku lakukan seharusnya kamu juga melakukan itu.” Buatku, mencintai adalah sebuah kenikmatan yang luar biasa. Seperti menyusuri terowongan gelap dengan cahaya redup sampai akhirnya menemukan ujung yang diterangi oleh cahaya terang abadi, ya..abadi.
Perjalanan cintaku bukan suatu hal yang sederhana, bisa dikatakan rumit, sangat rumit. Bukan hal yang mudah memahami pasanganku, bukan hal yang mudah untuknya memahami sifat dan watakku. Aku menikmati setiap liku perjalanan kisahku, walau suatu ketika sempat berpikir untuk menyudahinya. Setan membuatku berpikir seperti itu, tapi aku kembali ke akal sehatku.
Aku berbicara pada hatiku “hey, dia pasanganmu. Dia menemanimu didalam suka dan duka, dia menemanimu disetiap saat kamu butuh dia dan tidak butuh dia. Kamu juga sudah banyak menyisihkan ruang hati untuknya, mengisinya dengan kehangatan pelukannya, akankah kamu menyudahi ini semua?”
Tapi, semua yang aku alami membuat bagian hatiku berbicara juga.. “dia tidak memperhatikanmu lagi, siapasih kamu? Kamu Cuma cewek yang akan ditinggalkan ketika dia menemukan laki-laki yang bisa memberikan dia segalanya melebihi apa yang kamu berikan!” Rasanya kepalaku sakit, mau pecah! Sangkaan negatif dan positif merasuk kedalam pikiranku!
“Sayang, seberapapun kamu mencoba membenciku dengan keadaan ini.. Di hatiku tetap terukir namamu. Seberapapun kamu tidak mempercayai apa yang aku tulis disini, mulai sekarang percayalah apapun yang aku tulis disini adalah bagian dari isi hatiku. Aku hanya memperindah kalimat demi kalimat agar kau bisa membacanya dengan nyaman.”
“Aku bukan seperti yang kamu inginkan, aku bukan perempuan yang bisa memberikan segalanya untukmu, aku hanya perempuan yang mulai mengatakan “aku mencintaimu” setelah sekian lama aku mengatakan “aku menyayangimu dengan sangat” aku hanya bisa memberikan hati ini untuk kamu perlakukan dengan apapun kemauanmu. Hatiku sudah tak memiliki nyawa karena nyawa di dalam hatiku adalah kamu, ya kamu.. :’)”
Bisa kau hitung sudah berapa ratus liter air mata yang kita keluarkan untuk menyesali dan mengenang kejadian indah dalam hubungan kita, sayang? Sudahkah kamu bersyukur memiliki aku sebagai bagian hidupmu? Aku sangat bersyukur memiliki hidup bersamamu, mengarungi lautan tawa dan lautan tangis di pundakmu. Tertawa dalam berbagai hal, berbicara panjang lebar.
 Kamu ingat bagaimana aku ketakutan setengah mati saat aku melindas seekor ular dekat rumahmu sampai aku tidak berani pulang dan menjejakkan kakiku ditanah? Kamu memelukku sampai-sampai kamu mau mengantarku pulang. Kamu ingat bagaimana aku memelukmu dari belakang ketika kamu bercermin? Kamu ingat bagaimana ciuman rasa sayangku sampai di tubuhmu?
Kamu ingat bagaimana kamu memelukku ketika aku merasa sendirian dan sangat depresi? Kemana semua kepedulianmu? Apakah hilang karena aku memilih pulang kerumah demi sekolahku? Apakah kamu tidak mempercayai aku bahwa aku memiliki keinginan hidup bersamamu sampai mati? Apakah semua ucapanku kamu anggap sebagai bualan semata, sayang?
“Aku memang perempuan pecundang dan pengecut.  Tapi kamu harus tau sayang, disini, dirumah ini, aku mulai membuka jati diriku, aku mulai memperkenalkan kamu dengan cara aku menceritakan semua tentang kamu, semua yang aku ceritakan dengan antusias yang orangtuaku mulai curiga. Aku tidak peduli, aku hanya ingin bersamamu. Jadi aku mohon, berhentilah bersikap seolah-olah kamu tidak membutuhkanku.. :’)”
“Aku mengerti, semua yang kamu lakukan adalah bentuk rasa sayangmu padaku. Tapi sayang, semua yang kamu lakukan pasti ada balasannya.. jika kamu menginginkannya dariku, bersabarlah. Aku berubah seperti yang kamu inginkan di masa lalu pun butuh waktu cukup lama. Tapi sayangnya, aku yang sekarang-- yang dulu adalah keinginanmu sudah tidak berguna. Kamu tidak menginginkannya lagi.. :’D”

Setelah kamu bisa memahami isi tulisan ini, aku berharap kamu mengerti semua yang ada di dalam otak dan hatiku. Aku berharap kamu melaukakn hal ini juga, kalau saja kamu tidak mau berbagi unek-unek denganku. Harus kamu tau sayang, sekarang sudah bukan perkataan “aku sayang kamu” yang ada di hati ini, tetapi “aku mencintaimu, sungguh.” <3 

Rabu, 09 April 2014

Thursday, 03:10 a.m

tadi dia disini. di tempat gue, dan gue seneng. tapi pas gue bangun tidur, tiba-tiba dia lgsg pulang tanpa ada omongan apa apa dan nggak nyebutin "yang". Thats weird, janggal. Rasanya ada yang nggak beres, udah mencoba buat nggak tau apa-apa tapi makin gelisah abis baca tweet ini.

"Sayang sekali ya kamu kehilangan aku yg dulu. hehe"

Nyesek campur ah.. apa ya, nggak tau deh.. Cuma bisa melampiaskan dengan ngeluarin air mata, rasanya i dunno. It’s like thunder hit me :’)
Gue nggak pengen apa apa, gue nggak pengen merubah apapun. Gue Cuma mau dia disini sekarang, meluk gue, nyium gue, ngasih rasa sayangnya kayak dulu, oke buat ngasih rasa sayang yang kayak dulu mungkin nggak bisa. Kesalahan gue nyakitin dia, kesalahan gue bikin dia lepas dari genggaman. Tapi, gue masih gue yang sayang sama dia, yang takut kehilangan dia, yang nggak tau harus kemana kalo sendiri, yang goblok soal ngatur uang, she’s everything i had after my moms and fams :’(
Dia segalanya... gue suka semua tentang dia... everything all about her..
Gue suka kalo dia marah gara-gara cemburu sama gue
Gue suka liat dia tidur
Gue suka melukin dia pas tidur, gangguin dia, bangunin dia tidur, makan bareng, nyetrikain bajunya, masakin makanan buat dia
Gue suka cara dia manja ke gue walaupun gue nggak suka di lendotin di depan umum
Gue suka cara dia memperlakukan gue, yang dulu, bukan sekarang
Gue suka sms dia yang lebay, gue suka dia nelponin pas bangunin gue tidur
Gue suka dia dateng tiba-tiba ke kost , terus  dia melukin gue
Gue suka jalan-jalan sama dia, ketawa di jalan sampe muntah, ngomongin apapun yang kita liat
Gue suka kalo dia manyun
Gue suka kalo dia ngambek
Gue suka penampilan dia
Gue suka nyium kening dia, nyium jantungnya, pegang tangannya...
Apapun buat dia, gue lakuin demi bangun pondasi hubungan gue lagi. Tapi dia perlahan menghilang.. kepeduliannya,  cara dia nunjukin rasa sayangnya, smsnya, everything was change. And i know, its all because of me.
Gue kangen dia, kangen banget. Ada bagian yang bener-bener ilang dari hubungan gue walaupun sayang ini masih sangat besar. Yang hilang? KEPERCAYAAN...
Rasanya nyesek banget, tengah malem gini stalk fav twitter dia, update dia. Dia itu putaw! Gue kecanduan, gue nggak bisa lepas dari dia sekarang dan entah sampe kapan. Rancangan hidup yang gue susun nggak akan kemana-mana... jalan gue sama dia beda, dia masih punya keinginan buat nikah. Gue....belom dan nggak ada pikiran kesana...
Gue kangen dia, kangen banget....

Sayang, kembalilah. Be my mpid again, please :’)

Minggu, 09 Maret 2014

Broke up..no, it’s late (failed) monthsary.


Mungkin mendapatkan maaf lebih mudah daripada mendapatkan kepercayaannya lagi, ini bukan masalah memaafkan. Ini masalah kepercayaan dan banyak racun disekitarnya, mungkin saya bukan yang paling baik dalam menjaga kepercayaannya tapi... ah sudahlah, apa pentingnya saya  sekarang dengan sakit hatinya dia? Lebih besar sakit hatinya dan lebih penting itu.
Hubungan ini tidak berjalan seperti layaknya sebuah hubungan dengan status “pacar”. Empat hari sudah oh tepatnya duapuluh delapan hari di bulan februari dan dua hari di bulan maret, ah tidak mungkin dari sepuluh september dua ribu tiga belas sampai saat saya menuliskan ini..kepercayaannya tidak tumbuh atau mungkin hanya saya yang terlalu menghukum diriku dengan sangat keras. Berat badan yang berkurang makin berkurang, mungkin sekarang cuma empat puluh lima kilogram.
Kesepian, di cuekin, kurang perhatian, dan saya kurang bersyukur yang menyebabkan lubang luka yang makin besar dan sulit di tutup di hatinya. Saya sayang, sangat, lebih dari apapun, tapi, ini sulit, ini sulit dikatakan. Saya memang tidak bisa berbicara panjang lebar seperti mengetik ini, tetapi setidaknya dia akan membaca walaupun dengan muka jijik membaca ini.
“Seberapa besar kamu ngasih jarak ke aku?”  “Sejauh-jauhnya.” Got the point?
Harusnya nggak maksain dia buat tetap bersama di hubungan yang makin nggak sehat ini, tapi, sekali lagi, ini sulit, saya terlalu sayang dan terlalu ingin dia selalu ada di kehidupan saya  walaupun hanya sementara sampai dia benar-benar mengatakan bahwa dia nggak mau dan nggak mampu lagi ada disini, di hubungan ini.
Dia sudah mengatakan kalo dia nggak mau sama saya lagi, dia udah nggak sayang sama pengkhianat semacam  saya. Dia membenci saya sampai saat ini dia sedang tidur di kamar saya. Saya tidak tahu harus melakukan apa untuk menumbuhkan kepercayaan yang tidak akan pernah sama lagi. Apakah saya harus tetap disini mempertahankan semua dengan kaki kiri saja? Sedangkan kaki kanan saya sudah melangkah satu tahap jauh di depan saya? Buat saya, ini benar-benar kesalahan terbodoh yang saya ulang berkali-kali ketika tidak mendapatkan apa yang saya mau dari dia. Apa yang dia lakukan jauh lebih baik daripada saya, saya acungkan jempol untuk semua perbuatan dan pengorbanannya untuk saya. Saya benar-benar bersyukur memiliki dia tapi saya tidak dan belum bersyukur untuk hal-hal lainnya.

Rasanya sakit, kalo tau isi hati yang berdasarkan hati, bukan emosi atau omongan para racun. Mereka berhak mendapatkan cerita, tapi mereka tidak berhak membuat pencerita mengikuti saran mereka. Pencerita memiliki hati sendiri. Buat kalian para racun, saya punya pestisida dan penetral racun. Apakah anda mau saya netralkan racunnya? Mungkin agak terasa sakit di campur malu ya.